Selasa, 18 Oktober 2011

" KEBAIKAN LANGSUNG DIBALAS DENGAN KEBAIKAN



Beberapa malam yang lalu, saat aku sudah dibuai mimpi, aku dikejutkan suara dering Hp yang berbunyi. Ternyata datangnya dari salah seorang adik sepupu dikampung yang memberitahukan sedang berada di asrama haji dan mohon pamit serta doa karena yang bersangkutan segera akan berangkat haji bersama jamaah calon haji dari kloter Penajam Paser Utara, sedangkan ongkos naik haji sepenuhnya dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten.
Terkesima dan agak terkejut demikian muncul seketika reaksi mendengar pemberitahuan ini, rasanya tidak percaya dan tidak mungkin yang bersangkutan dapat berangkat menunaikan haji, karena dilihat dari sisi kemampuan finansial sangatlah tidak memenuhi kreteria sebagai orang yang mampu. Yang bersangkutan sehari-harinya berfropesi sebagai tukang atau petugas mengurus jenazah yaitu memandikan dan mengafani mayat dengan menerima imbalan berupa kain atau sarung bekas si mayit ditambah sedikit uang lelah sekedarnya. Selain itu apabila tidak ada job mengurus jenazah sekali-sekali yang bersangkutan menjadi tukang ojek dengan menggunakan motor bututnya.
Beberapa saat setelah hilang rasa keterkejutan menerima kabar yang menggembirakan tersebut, aku merenung dan terbesitlah rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak Allah Subhanahu Ta’ala. Apabila Ia berkehendak akan sesuatu, maka pasti terjadi dan tidak ada kekuatan apapun juga yang dapat menghalanginya. Apabila Ia hendak memberikan kebaikan atau memberikan kemudharatan kepada seseorang tidaklah ada yang dapat menghalanginya.
Teringat aku apa yang difirmankan Allah Subhanahu Ta’ala seperti yang termaktub dalam al-Qur’an :
وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ ( QS. Yunus : 107 )

Berkaitan dengan berangkatnya tukang urus jenazah menunaikan ibadah haji tersebut diatas tiada lain adalah sebagai salah satu contoh kecil wujud dari ayat tersebut diatas, dimana Allah memberikan kebaikan untuk seseorang yang tentunya tidak lain juga sebagai wujud dari balasan langsung didunia atas apa yang telah diperbuat oleh seseorang berupa kebaikan dengan ikhlas.

Balasan Allah Ta’ala berupa kebaikan dengan diberinya peluang melakukan ibadah haji melalui tangan lain dalaal ini Pemerintah tentunya tidak terlepas dari apa yang telah dikerjakan oleh yang bersangkutan selama ini sebagai profesi yang sangat tidak diminati banyak orang dan hanya mau dilakukan oleh segelintir orang yang ikhlas mengadikan hidupnya untuk menolong sesama manusia dan menggugurkan kewajiban sesama muslim berupa kewajiban fardhu kifayah. Bayangkan, andaikan tidak ada seorangpun diantara penduduk suatu kampung yang mau mengurus jenazah dengan memandikan kemudian memberikan kain kafan, maka seluruh penduduk kampung akan memikul dosanya.

Secara jujur, aku merasa iri hati kepada saudaraku yang menjadi petugas mengurus jenazah, karena berapa banyak jenazah yang dimandikan serta dikafankan dan betapa banyak pahala yang akan diperolehnya. Betapa banyak orang-orang yang dibantunya secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, betapa banyak kebaikan yang dia tanamkan . Aku patut iri kepadanya karena sementara ini aku belum mampu menanamkan kebaikan dengan menolong orang lain. Dan kita seharusnya iri hati kepada orang-orang lain meskipun mereka orang yang miskin tetapi telah banyak berbuat kebaikan pada orang lain sekalipun ia hanya berprofesi yang tidak dilirik orang. Profesi mengurus jenazah.
Selamat menunaikan ibadah haji saudaraku, semoga menjadi haji yang mabrur.

19 Oktober 2011
( Musni Japrie )

Sabtu, 15 Oktober 2011

" HANYA ENGKAU CINTAKU "



Hanya engkau kekasih hatiku
Surya untuk penghidupanku
Menerangi keseluruh kalbu
Dalam mengarungi lautan cinta
Oh….betapakah
Riang ria jiwaku di sampingmu
Bercinta dan berkasih dalam mimpi
Hanya engkau tujuanku satu
Hanya Engkau cintaku seorang
Dikau manis bagaikan bidadari kayangan
Yang turun ke bumi berselendang pelangi
Kujemput engkau dalam rangkulannya hangat rinduku
Engkaulah rembulan bercahyakan bintang asmara
Engkaulah embun sakti dini hari
Dengarkanlah hatiku menyanyi
Menyanyikan lagu rindu tak berkeputusan

" HANYA ENGKAU "



Hanya engkau
Mentari pagi penerang
Untuk penghidupanku
Menerangi keseluruh kalbu
Hanya Engkau
Sang rembulan
Penerang gelapnya malam
Menuntun digelap gulita malam
Hanya engkau tujuanku satu
Dikau tumpuan tempat aku kembali
Dengarkanlah hatiku mengadu
Di tengah kesepian malam hening tak berbintang
Hanyalah Engkau tempat meminta
Kepada-Mulah hatiku terpaut sudah
Tiada cinta lain, kecuali untuk-Mu
( by: musni Japrie )

Rabu, 12 Oktober 2011

Beraqidahlah Yang Benar,Jangan Dicampur Dengan Tradisi syirik

Disusun oleh : Musni Japrie

P e n d a h u l u an

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa selama beberapa bulan terakhir ini dibeberapa tempat mengalami kekeringan air karena musim kemarau, sehingga menyulitkan sebagian besar masyarakat dipelosok pedesaan yang tidak mememiliki sumber air kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari untuk konsumsi mereka. Sehingga mereka harus rela berjalan kaki berkilo-kilo meter menuju tempat-tempat yang ada sumber airnya meskipun sangat kercil sekali debet dan mereka terpaksa juga hbarus mengantri dan berebut menyidukkan gayung ke sumber air tersebut. Tidak pandang bulu, orang dewasa, anak-anak, laki-laki atau perempuan bahkan yang sudah jompopun terpaksa harus berikhtiar memperoleh air. Demikian yang hampir setiap hari kita ikuti informasinya dari berita tayangan hampir seluruh media televisi

Berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat dipulau Jawa untuk mengatasi kesulitan air antara lain dengan melakukan ritual-ritual meminta hujan yang dimata orang-orang beriman sangatlah tidak masuk akal karena tidak berdasarkan standard yang diperintahkan agama, bagaimana dan apa yang harus dilakukan apabila terjadi kemarau panjang dengan meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan sholat meminta hujan. Hal mana telah dilakukan pada zamannya Rasulullah shallallahu’alaihi wa Sallam dan zaman masa pemerintahan Halifah pasca wafatnya Nabi.

Masih banyaknya masyarakat islam di negeri ini yang buta terhadap agamanya sehingga mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aqidah islam, seperti yang digambarkan diatas dalam rangka meminta hujan mereka telah melakukan ritual yang sangat jelas syiriknya, karena meminta kepada selain Allah dan melakukan penyembahan-penyembahan berdasarkan tradisi nenek moyang jahiliyah dan sisa-sisa peninggalan kepercayaan animism dan dinamisme yang btidak mengenal tauhid.

Al-Qur’an dan As-sunnah Sebagai Tolok Ukur Tauhid
Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui firman-firmannya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan dan Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam melalui sunnah beliau telah menetapkan tolok ukur bagaimana tauhid seseorang yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim.
Fuad bin Abdul AzizAsy-Salhub dalam buku beliau Kumpulan Kultum Setahun mendefinisikan tauhid menurut syari’at adalah mengesakan Allah dengan berbagai macam ibadah bathin maupun lahir, seperti : doa, penyembelihan,nazar dan lain sebagainya. Kebalikan dari istilah tauhid adalah syirik, yakni suatu kezaliman yang paling zalim, karena seorang mukalaf ketika mengingkari hak Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur, Yang menghidupkan, dan yang mematikan, lalu berdoa kepada selain Allah, bernazar untuk selain Allah, atau mengadakan perantara antara dirinya dan Penciptanya yang dia gunakan untuk bertaqarub kepadanya atau memohon kepada-Nya, atau mengalihkan suatu ibadah kepada selain Allah, maka ia telah melampaui batas, berbuat jahat dan zalim.
Allah Ta’ala berfirman dalam surah luqman ayat : 13 :
-
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
K.H Qomar
uddin Shaleh , dkk dalam bukunya Ayat-Ayat Larangan & Dan Perintah Dalam Al-Qur’an mengemukakan , bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang hambanya menyimpang dalam bertauhid, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an surah an- Nahl ayat 51- 55 :
وَقَالَ اللّهُ لاَ تَتَّخِذُواْ إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلهٌ وَاحِدٌ فَإيَّايَ فَارْهَبُونِ “

وَلَهُ مَا فِي الْسَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا أَفَغَيْرَ اللّهِ تَتَّقُونَ
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
.
ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
-
لِيَكْفُرُواْ بِمَا آتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُواْ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
“Allah berfirman : “Janganlah kamu menyembah dua tuhan, sesungguhnya Dia lah Tuhan Yang Maha Kuasa , maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut. Dan kepunyaan-Nya lah segala yang ada dilangit dan di bumi, dan untuk-Nya lah segala ketaatan itu untuk selama-lamanya . Maka mengapa kamu bertaqwa kepada selain Allah? Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu , maka dari Allah lah ( datangnya ), dan bila kamu ditimpa kemudharatan, maka hanya kepada Allah-lah kamu meminta pertolongan.Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari kamu, tiba-tiba sebagai dari kamu mempersekutukan-Nya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nimat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)

Selanjutnya dikemukakan juga oleh K.H Qomaruddin , mengakui Alllah Subhanahu Wa Ta’ala, b aik dalam rububiyyah maupun uluhiyah-Nya dinamakan perbuatan bertauhid kepada Allah. Rububiyyah adalah sifat Ketuhanan dan Keesaan Allah dalam hal menciptakan, Memberikan rezeki, Menentukan Taqdir, Menghidupkan dan Mematikan, dan lain-lain. Sedangkan Uluhiyah adalah sifat Ketuhanan dan Keesaan Allah mengenai haknya untuk diibadahi oleh hamba-Nya. Jika seorang hamba cacat dalam bertauhid kepada Allah, baik Rububiyah , Uluhiyah maupun kedua-duanya, maka ia termasuk orang-orang yang akan binasa diakhirat kelak. Sebaliknya bila seorang hamba memiliki ketauhidan yang sempurna, maka ia akan termasuk orang-orang yang berbahagia kelak diakhirat.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 21-22:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُون
“ Wahai manusia , sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia Menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.
Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an SurahAl-Mu’-min ayat 14 :
-
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Maka sembahlahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya

Selain beberapa firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menyebutkan tentang perintah untuk beriman dan menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa sebagai tolok ukur untuk menegakkan tauhid, maka tidak kurang pula Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam telah pula menggariskan wajibnya seorang hamba untuk beriman dan menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Beberapa hadits agung dan lagi mulia yang menyebutkan perintah dan kewajiban untuk beriman antara lain sebagai berikut :
Dalamsebuah hadits panjang yang diriwayatkan Muslim, dari Abu Sai’id Al Khudri radhiyallahu anhum, bahwasanya orang-orang dari suku Abdul Qais mendatangi Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata : berilah kami suatu perintah yang akan kami sampaikan kepada orang-orang dikampung kami serta menyebabkan kami masuk surga apabila kami melaksanakannya. Maka Rasullullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Aku perintahkan kepadamu 4 empat( perkara dan aku melarang kamu dari 4 perkara. (Aku perintahkan) 1.Sembahlah Allah dan jangan kamu menyekutukannya dengan suatu apapun, (2) dan seterusnya …

Hadits lain riwayat Muslim, dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi radhyallaahu anhum , dia berkata : “ Saya pernah bertanya kepada Rasullulah shallalahu ‘alihi wa sallam , Wahai Rasullulah! Katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorangpun sesudah kamu” Beliau menjawab, Katakanlah! Saya beriman kepadaAllah lalu konsisten lah ( dengan apa yang kamu ucapkan)

Dari beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits dari Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang dikutipkan diatas, yang wajib untuk dijadikan tolok ukur dan rujukan bagi kaum muslimin dalam melakukan penilaian segala perilakunya dalam kehidupan sehari-hari terutama berkaitan dengan aqidah dan tauhidnya. Apabila apa yang dilakukan tidak bersesuaian dengan kaidah-kaidah baku yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-sunnah maka jadi bathil.
Setelah membandingkan prilaku mereka-mereka yang secara sengaja telah melakukan prosesi ritual dengan memberikan sesajen kepada yang dianggap sebagai sang penguasa alam dan para roh-roh, baik yang dilakukan melalui upacara ritual yang dilakukan massal seperti sedekah bumi, sedekah laut dan segala bentuk sedekah lainnya, ataupun yang dilakukan secara perorangan sesuai dengan hajatnya, maka jelas secara nyata semua itu berlawanan dengan perintah tauhid untuk hanya beriman dan menyembah kepadaAllah Yang Maha Esa semata, tidak boleh ditawar-tawar lagi
.
Upacara Ritual Pemberian Sesajen Kepada Penguasa Alam& Roh-roh Halus Adalah Prilaku Syirik.
Dalam Al-Qur’an Surah al-Isra ayat 22 tentang larangan berbuat syirik dan perintah menetapi tauhid , Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut :
-
لاَّ تَجْعَل مَعَ اللّهِ إِلَـهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولاً
“ Janganlah kamu adakan tuhan yang lain

Syirik sebagaimana yang didefinisikan dalam Ensiklopedi Islam Insan Kamil susunan Syaikh Muhamad bin Ibrahim bin AQdullah At-Tuwaijiri, ialah menyekutukan Allah Ta’ala dalam rububiyah-Nya dan Uluhiyah-Nya, asma’ (nama-nama) dan sifat-Nya, atau salah satunya. Jika seorang hamba meyakini bahwa ada sang Pencipta atau sang Penolong selain Allah untuk disembah, maka ia telah musyrik. Dan jika ia berkeyakinan bahwa ada yang menyerupai Allah dalam asma’ (nama) dan sifat-Nya, maka ia telah musyrik.
Lebih lanjut dikemukan dalam Ensiklopedi Islam tersebut diatas bahwa, syirik kepadaAllah merupakan kezaliman yang sangat besar. Hal ini karena seorang yang berbuat syirik berarti telah menodai hak prioritas Allah atas hamba-Nya, yaitu mentauhidkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya. Tauhid merupakan puncak segala keadilan, sedangkan syirik merupakan puncak segala kezaliman. Dengan berbuat syirik berarti telah merendahkan Tuhan semesta alam, ingkar dari ketaatan kepada-Nya, memalingkan hak-Nya kepaa yang lain dan menggantikan tempat-Nya untuk tempat yang lain. Karena besarnya bahaya syirik, maka setiap orang yang meninggal dunia dalam keadaan musyrik, Allah tidak akan mengampuninya. Firman Allah Ta’ala :

-
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya ( QS. An-Nisaa; : 48 )
Berdasarkan kepada dalil-dalil yang shahih tersebut diatas, maka secara nyata nampak kesyirikan yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku sebagai muslim melalaui prilaku upacara ritual yang mereka selenggarakan ,dengan memberikan sesajen kepada yang diyakini sebagai penguasa alam baik berupa makhluk-makhluk atau roh-roh agar memberikan perlindungan, sedangkan permohonan perlindungan kepada selain Allah berarti telah mensekutukan Allah dengan yang lain. Dan ini namanya kesyirikan yang nyata dan haram hukumnya dilakukan oleh kaum muslimin.
Dalam buku Kumpulan kultum Setahun oleh Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub dikemukakan bahwa diantara kesyirikan adalah berlindung kepada selain Al;lah Ta’ala dalam mencegah bahaya. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Jin : 6 “
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan “.
Diantara kesyirikan adalah meminta pertolongan kepada jin atau semacamnya untuk mencegah bahaya, mendapatkan manfaat atau meminta pertolongan dengan orang-orang yang telah mati yang tidak tahu tempatnya ( gaib ) yang dikenal dengan sebutan leluhur.
Allah Ta’ala memerintahkan kepada manusia agar memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan makhluk –Nya di dalam Al-Qur’an Surah Al-Falak :ayat 1 – 5 :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“ Katakanlah : Aku belindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul , dan kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki.

Rasullulah shalalahu ‘alaihiwa sallam bersabda :
Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan ,maka mintalah pertolongan kepada Allah “ ( HR At-Tirmidzi dan Ahmad )
Persembahan/pemberian sesajen kepada makhluk gaib agar tidak menganggu dan diharapkan dapat memberikan keselamatan , berarti meyakini dan mengakui adanya eksistensi makhluk selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dapat memberikan keselamatan. Padahal hanya Allah Yang Maha Kuasa sajalah yang dapat memberikan keselamatan dan kemudharatan kepada hambanya, selain Dia tidak ada yang kuasa berbuat seperti yang diperbuat oleh Allah.
Allah Yang Maha Esa tidak pernah meminta atau memerintahkan kepada makhluknya untuk mempersembahkan sesuatu berupa sesajen. Allah hanya memerintahkan kepada manusia untuk menyembahnya dengan melakukan sholat. Pemberian sesembahan berupa sesajen kepada makhluk gaib berupa jin penunggu suatu tempat sebenarnya hanya dilakukan oleh leluhur yang pada zaman itu masih jahil dan menganut aninisme. Kalau perbuatan seperti itu dilakukan setelah diutusnya Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang telah menyampaikan risa’lah islam kepada umat manusia, maka berarti telah berbuat kesyirikan namanya.
Allah telah memerintahkan pada hambanya agar melaksanakan ajaran islam secara menyeluruh, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 208 :
“ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Isllam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”|
K.H Qomarudin Shaleh dalam bukunya Larangan-larangan dan Perintah Dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa ayat yang agung ini secara total dalamkehidupannya dan menjauhi langkah-langkah syetan yang menyesatkan. Tidak ada kebaikan yang sempurna dalamsetiap hirupan nafas manusia kecuali mengimani dan mengamalkan ajaran islam secara menyeluruh. Dan tidak ada keburukan yang sempurna dikolong langit ini kecuali dengan mengikuti saran-saran setan yang celaka.
Dari penjelasan tersebut diatas, maka bagi mareka yang btelah menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, maka wajib baginya untuk masuk kedalam islam secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong. Atau dengan kata lain, apabila sudah mengakui bahwa Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, maka wajib baginya untuk meninggalkan apa saja yang dapat menimbulkan kesyirikan. Yaitu hanya mengakui Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutunya. Tidak ada yang dapat menolong dan memberikan perlindungan, kecuali Allah.
Qayyim Al-Zaujiyah rahimahullaah dalam buku beliau Mengetuk Pintu Ampunan Meraih berjuta Anugerah mengatakan : hakikat syirik itu adalah menyerupakan makhluk dengan Allah Pencipta semesta dalam arti yang sebenarnya ,bukan sekedar penyerupaan sifat-sifat kesempurnaan yang Allah sifatkan pada Zat-Nya dan disifatkan oleh Rasullullah shallalhu ‘alaihi wa sallam. Lalu orang yang dibalikkan hatinya oleh Allah , yang dibutakan mata hatinya , disusahkan penghidupannya, akan memahami nya dengan kontra persepsi, mengubah tauhid menjadi syirik, dan menjadikan penyerupaan sebagai bentuk pengagungan dan ketaatan. Maka , seorang yang musyrik adalah orang yang menyerupakan makhluk dengan Sang Maha Pencipta. Termasuk kekhususan ketuhanan adalah keesaan dalam otoritas bahaya dan keselamatan,pemberian dan penolakan. Ini berkonsekwensi pada penggantungan doa , rasa takut , harapan dan kepasrahan hanya kepada-Nya semata. Maka, siapa yang menghubungkan semua itu dengan makhluk, dia telahmenyerupakannya dengan Sang Maha Pencipta , menjadikan orang yang tidak mempunyai otoritas apapun pada keselamatan, bahaya, kematian, kehidupan, kebangkitan.
Allah Ta’ala berfirman dalam Qur’an Surah Al-An’am ayat 151 :

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Katakanlah : Mari kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhan-mu , yaitu : Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia
Berkenaan dengan ayat tersebut diatas KH. Qomarudin Shaleh dkk dalam bukunya Ayat-ayat Larangan dan Perintah DalamAl-Qur’an menyebutkan : syirik adalah mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah atau menganggap bahwa selain dari Allah ada sesuatu yang dapat memberikan manfaat maupun mudharat kepada manusia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Ab dullah bin Mas’ud radhyallahu anhum bertanya kepada Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam :
“ Apakah dosa yang paling besar menurut Allah? , Rasullulah shalalahu ‘alaihi wa saalm bersabda : “ yaitu jika engkau membuat tandingan bagi Allah , padahal Dia-lah yang Menciptakan mu “
Selanjutnya disebutkan juga oleh KH. Qomarudin Shaleh dalam buku yang dimaksudkan diatas bahwa :Syirik pada hakekatnya meruapakan peribatan kepada hawa nafsu dan setan. P:adahal hawa nafsu dan setan merupakan penghalang bagi jirwa dan rohani untukmengenal sifa-sifat Allah. Demikianlah yang terjadi dengan kaum musyrikin , mereka menyembah hawa nafsu danmemenuhi segala keinginan hawa nafsu. Akhirnya , merekapun dengan lancangnya berani menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.
Sesungguhnya penyebab dari segala radzilah ( kehinaan ) adalah perbuatan syirik kepada Allah . Perbuatan syirik hanya dilakukan oleh orang yang tidak mau menggunakan akaldan mata hati nya sejalan dengan dalil. Orang demikian akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan dan lautan kegelapan. Ia terlepas dan perpisah jauh dari hiodayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam buku Fathul Majid Penjelasan Kitab Tauhid ( Membersihkan aqidah Dari Racun Syirik) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh yang din tahqik oleh Syaikh Abdul Aziz Abdullah Bin Baz, disebutkan bahwa syirik adalah menyerupakan makhluk dengan Al-Khalik ( Allah ) Subhanuhu Wa Ta’ala dalhal-hal yang merupakan sifat-sifat khusus Ilahi, yang berupa kemahakuasaan merupakan bahaya dan mengaruniakan manfaat, member dan menahan pemberian, yang mengharuskan ketergantungan berdoa, rasa takut,berharap, bertawakkal dan macam-macamibadaha lainnyaklepadaAllah saja. Barang siapa menggantungkan hal itu dengan Allah dan menjadikan orang yang tidak berkuasa menentukan bahaya,kematian,kehidupan, dan kebangkitan sebagai sosok yang serupa dengan Dzat yang memiliki segala pujian, seluruh kerajaan, kepada-Nya semua urusan dikembalikan dan ditangan-Nya semua kebaikan. Kendalui semua urusan ada ditangan-Nya dan kembali kepada-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki pasti tidak terjadi.

K e s i m p u l a n .
Dari uraian yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Ada sebagian kaum muslimin dewasa ini yang masih melakukan perbuatan jahiliyah yang diwarisi dari kepercayaan aninisme dan dinamisme , berupa permintaan pertolongan dan perlindungan dengan memberikan sesajen sebagai persembahan kepada sesuatu selain Allah karena diyakini sesuatu tersebut dapat memberikan pertolongan dan perlindungan kepada mereka. Dengan dalih sebagai tradisi budaya dari leluhur yang perlu dipertahankan dan dilestarikan.
2. Al-Qur-an dan As -sunnah secara gamblang dan tegas menyatakan bahwa meminta pertolongan dan perlindungan , wajib hanya disampaikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah Ta’ala lah yang berhak untuk disembah dan dimintai perlindungan serta pertolongan. Permintaan perlindungan dan pertolongan kepada selain Allah sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dengan memberikan sesajen kepada roh-roh dan makhluk halus yang dianggap sebagai penguasa alam, telah menyalahi syar’iat.
3. Al-Qur’an dan as-sunnah adalah tolok ukur untuk menilai apakah prilaku dalam kehidupan kaum muslimin sudah sesuai dengan ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah melalui wahyunya dan yang disabdakan oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits beliau , dan apabila ternyata tidak bersesuaian maka tertolak atau bathil.
4. Karena permintaan pertolongan dan perlindungan kepada sesuatu yang dianggap sebagai penguasa alam dan roh-roh makhluk halus yang dilengkapi dengan pemberian sesajen sebagai bentuk persembahan, merupakan kepercayaan yang bathil dan bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-sunnah adalah termasuk dalam katagori menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia termasuk syirik.
Wallaahu Ta’ala ‘alam.
B ahan bacaan :
1. Al-Qur’an dan terjemahan oleh Departemen Agama RI.
2. Ringkasan Shahih Bukhari oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Bani.
3. Ringkasan Shahih Muslim oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Bani.
4. Ayat-ayat Larangan dan Perintah dalam Al-Qur’an oleh K.H Qomaruddin Shaleh dkk.
5.Fathul Majid Penjelasan Kitab Tauhid oleh Syaikh Abdrurrahman Alu Syaikh.
6. Ensiklopedi Islam Al-Kami oleh Syaikh Muhammadbun Ibrahin bin Ab ddulah At-Tuwaijiri.
7. Kumpulan kultum Setahun oleh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub.
8. Pemurnian Akidah oleh Abu Bakar Al-Jazairi.
9. Mantan Kiai NU Meluruskan Ritual-Ritual Kiai Ahli Bid'ah Yang Dianggap Sunnah
Diselesaikan waktu dhuha .15 Dzulqa’idah 1432 H/13 Oktober 2011

Beraqidahlah yang benar,jangan dicampur dengan tradisi syirik


Disusun oleh : Musni Japrie

P e n d a h u l u an
Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa selama beberapa bulan terakhir ini dibeberapa tempat mengalami kekeringan air karena musim kemarau, sehingga menyulitkan sebagian besar masyarakat dipelosok pedesaan yang tidak mememiliki sumber air kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari untuk konsumsi mereka. Sehingga mereka harus rela berjalan kaki berkilo-kilo meter menuju tempat-tempat yang ada sumber airnya meskipun sangat kercil sekali debet dan mereka terpaksa juga hbarus mengantri dan berebut menyidukkan gayung ke sumber air tersebut. Tidak pandang bulu, orang dewasa, anak-anak, laki-laki atau perempuan bahkan yang sudah jompopun terpaksa harus berikhtiar memperoleh air. Demikian yang hampir setiap hari kita ikuti informasinya dari berita tayangan hampir seluruh media televisi

Berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat dipulau Jawa untuk mengatasi kesulitan air antara lain dengan melakukan ritual-ritual meminta hujan yang dimata orang-orang beriman sangatlah tidak masuk akal karena tidak berdasarkan standard yang diperintahkan agama, bagaimana dan apa yang harus dilakukan apabila terjadi kemarau panjang dengan meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan sholat meminta hujan. Hal mana telah dilakukan pada zamannya Rasulullah shallallahu’alaihi wa Sallam dan zaman masa pemerintahan Halifah pasca wafatnya Nabi.

Masih banyaknya masyarakat islam di negeri ini yang buta terhadap agamanya sehingga mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aqidah islam, seperti yang digambarkan diatas dalam rangka meminta hujan mereka telah melakukan ritual yang sangat jelas syiriknya, karena meminta kepada selain Allah dan melakukan penyembahan-penyembahan berdasarkan tradisi nenek moyang jahiliyah dan sisa-sisa peninggalan kepercayaan animism dan dinamisme yang btidak mengenal tauhid.

Al-Qur’an dan As-sunnah Sebagai Tolok Ukur Tauhid
Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui firman-firmannya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan dan Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam melalui sunnah beliau telah menetapkan tolok ukur bagaimana tauhid seseorang yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim.
Fuad bin Abdul AzizAsy-Salhub dalam buku beliau Kumpulan Kultum Setahun mendefinisikan tauhid menurut syari’at adalah mengesakan Allah dengan berbagai macam ibadah bathin maupun lahir, seperti : doa, penyembelihan,nazar dan lain sebagainya. Kebalikan dari istilah tauhid adalah syirik, yakni suatu kezaliman yang paling zalim, karena seorang mukalaf ketika mengingkari hak Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur, Yang menghidupkan, dan yang mematikan, lalu berdoa kepada selain Allah, bernazar untuk selain Allah, atau mengadakan perantara antara dirinya dan Penciptanya yang dia gunakan untuk bertaqarub kepadanya atau memohon kepada-Nya, atau mengalihkan suatu ibadah kepada selain Allah, maka ia telah melampaui batas, berbuat jahat dan zalim.
Allah Ta’ala berfirman dalam surah luqman ayat : 13 :
-
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

K.H Qomaruddin Shaleh , dkk dalam bukunya Ayat-Ayat Larangan & Dan Perintah Dalam Al-Qur’an mengemukakan , bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang hambanya menyimpang dalam bertauhid, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an surah an- Nahl ayat 51- 55 :
وَقَالَ اللّهُ لاَ تَتَّخِذُواْ إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلهٌ وَاحِدٌ فَإيَّايَ فَارْهَبُونِ “

وَلَهُ مَا فِي الْسَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا أَفَغَيْرَ اللّهِ تَتَّقُونَ
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
.
ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
-
لِيَكْفُرُواْ بِمَا آتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُواْ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Allah berfirman : “Janganlah kamu menyembah dua tuhan, sesungguhnya Dia lah Tuhan Yang Maha Kuasa , maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut. Dan kepunyaan-Nya lah segala yang ada dilangit dan di bumi, dan untuk-Nya lah segala ketaatan itu untuk selama-lamanya . Maka mengapa kamu bertaqwa kepada selain Allah? Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu , maka dari Allah lah ( datangnya ), dan bila kamu ditimpa kemudharatan, maka hanya kepada Allah-lah kamu meminta pertolongan.Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari kamu, tiba-tiba sebagai dari kamu mempersekutukan-Nya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nimat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)

Selanjutnya dikemukakan juga oleh K.H Qomaruddin , mengakui Alllah Subhanahu Wa Ta’ala, b aik dalam rububiyyah maupun uluhiyah-Nya dinamakan perbuatan bertauhid kepada Allah. Rububiyyah adalah sifat Ketuhanan dan Keesaan Allah dalam hal menciptakan, Memberikan rezeki, Menentukan Taqdir, Menghidupkan dan Mematikan, dan lain-lain. Sedangkan Uluhiyah adalah sifat Ketuhanan dan Keesaan Allah mengenai haknya untuk diibadahi oleh hamba-Nya. Jika seorang hamba cacat dalam bertauhid kepada Allah, baik Rububiyah , Uluhiyah maupun kedua-duanya, maka ia termasuk orang-orang yang akan binasa diakhirat kelak. Sebaliknya bila seorang hamba memiliki ketauhidan yang sempurna, maka ia akan termasuk orang-orang yang berbahagia kelak diakhirat.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 21-22:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُون
“ Wahai manusia , sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia Menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.
Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an SurahAl-Mu’-min ayat 14 :
-
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“ Maka sembahlahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya

Selain beberapa firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menyebutkan tentang perintah untuk beriman dan menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa sebagai tolok ukur untuk menegakkan tauhid, maka tidak kurang pula Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam telah pula menggariskan wajibnya seorang hamba untuk beriman dan menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Beberapa hadits agung dan lagi mulia yang menyebutkan perintah dan kewajiban untuk beriman antara lain sebagai berikut :
Dalamsebuah hadits panjang yang diriwayatkan Muslim, dari Abu Sai’id Al Khudri radhiyallahu anhum, bahwasanya orang-orang dari suku Abdul Qais mendatangi Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata : berilah kami suatu perintah yang akan kami sampaikan kepada orang-orang dikampung kami serta menyebabkan kami masuk surga apabila kami melaksanakannya. Maka Rasullullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Aku perintahkan kepadamu 4 empat( perkara dan aku melarang kamu dari 4 perkara. (Aku perintahkan) 1.Sembahlah Allah dan jangan kamu menyekutukannya dengan suatu apapun, (2) dan seterusnya …
Hadits riwayat Muslim dari Abu Dzarr radhyallaahu anhum, dia berkata : “ Saya pernah bertanya, Wahai Rasullulah! Apa perbuatan yang paling utama?”. Beliau menjawab, “ iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya “

Hadits lain riwayat Muslim, dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi radhyallaahu anhum , dia berkata : “ Saya pernah bertanya kepada Rasullulah shallalahu ‘alihi wa sallam , Wahai Rasullulah! Katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorangpun sesudah kamu” Beliau menjawab, Katakanlah! Saya beriman kepadaAllah lalu konsisten lah ( dengan apa yang kamu ucapkan)

Dari beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits dari Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang dikutipkan diatas, yang wajib untuk dijadikan tolok ukur dan rujukan bagi kaum muslimin dalam melakukan penilaian segala perilakunya dalam kehidupan sehari-hari terutama berkaitan dengan aqidah dan tauhidnya. Apabila apa yang dilakukan tidak bersesuaian dengan kaidah-kaidah baku yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-sunnah maka jadi bathil.
Setelah membandingkan prilaku mereka-mereka yang secara sengaja telah melakukan prosesi ritual dengan memberikan sesajen kepada yang dianggap sebagai sang penguasa alam dan para roh-roh, baik yang dilakukan melalui upacara ritual yang dilakukan massal seperti sedekah bumi, sedekah laut dan segala bentuk sedekah lainnya, ataupun yang dilakukan secara perorangan sesuai dengan hajatnya, maka jelas secara nyata semua itu berlawanan dengan perintah tauhid untuk hanya beriman dan menyembah kepadaAllah Yang Maha Esa semata, tidak boleh ditawar-tawar lagi
.
Upacara Ritual Pemberian Sesajen Kepada Penguasa Alam& Roh-roh Halus Adalah Prilaku Syirik.
Dalam Al-Qur’an Surah al-Isra ayat 22 tentang larangan berbuat syirik dan perintah menetapi tauhid , Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut :
-
لاَّ تَجْعَل مَعَ اللّهِ إِلَـهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولاً
Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)

Syirik sebagaimana yang didefinisikan dalam Ensiklopedi Islam Insan Kamil susunan Syaikh Muhamad bin Ibrahim bin AQdullah At-Tuwaijiri, ialah menyekutukan Allah Ta’ala dalam rububiyah-Nya dan Uluhiyah-Nya, asma’ (nama-nama) dan sifat-Nya, atau salah satunya. Jika seorang hamba meyakini bahwa ada sang Pencipta atau sang Penolong selain Allah untuk disembah, maka ia telah musyrik. Dan jika ia berkeyakinan bahwa ada yang menyerupai Allah dalam asma’ (nama) dan sifat-Nya, maka ia telah musyrik.
Lebih lanjut dikemukan dalam Ensiklopedi Islam tersebut diatas bahwa, syirik kepadaAllah merupakan kezaliman yang sangat besar. Hal ini karena seorang yang berbuat syirik berarti telah menodai hak prioritas Allah atas hamba-Nya, yaitu mentauhidkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya. Tauhid merupakan puncak segala keadilan, sedangkan syirik merupakan puncak segala kezaliman. Dengan berbuat syirik berarti telah merendahkan Tuhan semesta alam, ingkar dari ketaatan kepada-Nya, memalingkan hak-Nya kepaa yang lain dan menggantikan tempat-Nya untuk tempat yang lain. Karena besarnya bahaya syirik, maka setiap orang yang meninggal dunia dalam keadaan musyrik, Allah tidak akan mengampuninya. Firman Allah Ta’ala :

-
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya ( QS. An-Nisaa; : 48 )

Berdasarkan kepada dalil-dalil yang shahih tersebut diatas, maka secara nyata nampak kesyirikan yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku sebagai muslim melalaui prilaku upacara ritual yang mereka selenggarakan ,dengan memberikan sesajen kepada yang diyakini sebagai penguasa alam baik berupa makhluk-makhluk atau roh-roh agar memberikan perlindungan, sedangkan permohonan perlindungan kepada selain Allah berarti telah mensekutukan Allah dengan yang lain. Dan ini namanya kesyirikan yang nyata dan haram hukumnya dilakukan oleh kaum muslimin.
Dalam buku Kumpulan kultum Setahun oleh Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub dikemukakan bahwa diantara kesyirikan adalah berlindung kepada selain Al;lah Ta’ala dalam mencegah bahaya. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Jin : 6 “
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan
.
Diantara kesyirikan adalah meminta pertolongan kepada jin atau semacamnya untuk mencegah bahaya, mendapatkan manfaat atau meminta pertolongan dengan orang-orang yang telah mati yang tidak tahu tempatnya ( gaib ) yang dikenal dengan sebutan leluhur.
Allah Ta’ala memerintahkan kepada manusia agar memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan makhluk –Nya di dalam Al-Qur’an Surah Al-Falak :ayat 1 – 5 :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Katakanlah : Aku belindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul , dan kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki. “

Rasullulah shalalahu ‘alaihiwa sallam bersabda :
Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan ,maka mintalah pertolongan kepada Allah “ ( HR At-Tirmidzi dan Ahmad

Persembahan/pemberian sesajen kepada makhluk gaib agar tidak menganggu dan diharapkan dapat memberikan keselamatan , berarti meyakini dan mengakui adanya eksistensi makhluk selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dapat memberikan keselamatan. Padahal hanya Allah Yang Maha Kuasa sajalah yang dapat memberikan keselamatan dan kemudharatan kepada hambanya, selain Dia tidak ada yang kuasa berbuat seperti yang diperbuat oleh Allah.
Allah Yang Maha Esa tidak pernah meminta atau memerintahkan kepada makhluknya untuk mempersembahkan sesuatu berupa sesajen. Allah hanya memerintahkan kepada manusia untuk menyembahnya dengan melakukan sholat. Pemberian sesembahan berupa sesajen kepada makhluk gaib berupa jin penunggu suatu tempat sebenarnya hanya dilakukan oleh leluhur yang pada zaman itu masih jahil dan menganut aninisme. Kalau perbuatan seperti itu dilakukan setelah diutusnya Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang telah menyampaikan risa’lah islam kepada umat manusia, maka berarti telah berbuat kesyirikan namanya.

Allah telah memerintahkan pada hambanya agar melaksanakan ajaran islam secara menyeluruh, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 208 :
“ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Isllam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”|

Disebutkan juga oleh K.H Qomarudin Shaleh dalam bukunya Larangan-larangan dan Perintah Dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa ayat yang agung ini secara total dalamkehidupannya dan menjauhi langkah-langkah syetan yang menyesatkan. Tidak ada kebaikan yang sempurna dalamsetiap hirupan nafas manusia kecuali mengimani dan mengamalkan ajaran islam secara menyeluruh. Dan tidak ada keburukan yang sempurna dikolong langit ini kecuali dengan mengikuti saran-saran setan yang celaka.
Dari penjelasan tersebut diatas, maka bagi mareka yang btelah menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, maka wajib baginya untuk masuk kedalam islam secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong. Atau dengan kata lain, apabila sudah mengakui bahwa Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, maka wajib baginya untuk meninggalkan apa saja yang dapat menimbulkan kesyirikan. Yaitu hanya mengakui Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutunya. Tidak ada yang dapat menolong dan memberikan perlindungan, kecuali Allah.

Qayyim Al-Zaujiyah rahimahullaah dalam buku beliau Mengetuk Pintu Ampunan Meraih berjuta Anugerah mengatakan : hakikat syirik itu adalah menyerupakan makhluk dengan Allah Pencipta semesta dalam arti yang sebenarnya ,bukan sekedar penyerupaan sifat-sifat kesempurnaan yang Allah sifatkan pada Zat-Nya dan disifatkan oleh Rasullullah shallalhu ‘alaihi wa sallam. Lalu orang yang dibalikkan hatinya oleh Allah , yang dibutakan mata hatinya , disusahkan penghidupannya, akan memahami nya dengan kontra persepsi, mengubah tauhid menjadi syirik, dan menjadikan penyerupaan sebagai bentuk pengagungan dan ketaatan. Maka , seorang yang musyrik adalah orang yang menyerupakan makhluk dengan Sang Maha Pencipta. Termasuk kekhususan ketuhanan adalah keesaan dalam otoritas bahaya dan keselamatan,pemberian dan penolakan. Ini berkonsekwensi pada penggantungan doa , rasa takut , harapan dan kepasrahan hanya kepada-Nya semata. Maka, siapa yang menghubungkan semua itu dengan makhluk, dia telahmenyerupakannya dengan Sang Maha Pencipta , menjadikan orang yang tidak mempunyai otoritas apapun pada keselamatan, bahaya, kematian, kehidupan, kebangkitan.
Allah Ta’ala berfirman dalam Qur’an Surah Al-An’am ayat 151 :

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Katakanlah : Mari kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhan-mu , yaitu : Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia “

Berkenaan dengan ayat tersebut diatas KH. Qomarudin Shaleh dkk dalam bukunya Ayat-ayat Larangan dan Perintah DalamAl-Qur’an menyebutkan : syirik adalah mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah atau menganggap bahwa selain dari Allah ada sesuatu yang dapat memberikan manfaat maupun mudharat kepada manusia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Ab dullah bin Mas’ud radhyallahu anhum bertanya kepada Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam :
Apakah dosa yang paling besar menurut Allah? , Rasullulah shalalahu ‘alaihi wa saalm bersabda : “ yaitu jika engkau membuat tandingan bagi Allah , padahal Dia-lah yang Menciptakan mu
Selanjutnya disebutkan juga oleh KH. Qomarudin Shaleh dalam buku yang dimaksudkan diatas bahwa :Syirik pada hakekatnya meruapakan peribatan kepada hawa nafsu dan setan. P:adahal hawa nafsu dan setan merupakan penghalang bagi jirwa dan rohani untukmengenal sifa-sifat Allah. Demikianlah yang terjadi dengan kaum musyrikin , mereka menyembah hawa nafsu danmemenuhi segala keinginan hawa nafsu. Akhirnya , merekapun dengan lancangnya berani menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.
Sesungguhnya penyebab dari segala radzilah ( kehinaan ) adalah perbuatan syirik kepada Allah . Perbuatan syirik hanya dilakukan oleh orang yang tidak mau menggunakan akaldan mata hati nya sejalan dengan dalil. Orang demikian akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan dan lautan kegelapan. Ia terlepas dan perpisah jauh dari hiodayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam buku Fathul Majid Penjelasan Kitab Tauhid ( Membersihkan aqidah Dari Racun Syirik) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh yang din tahqik oleh Syaikh Abdul Aziz Abdullah Bin Baz, disebutkan bahwa syirik adalah menyerupakan makhluk dengan Al-Khalik ( Allah ) Subhanuhu Wa Ta’ala dalhal-hal yang merupakan sifat-sifat khusus Ilahi, yang berupa kemahakuasaan merupakan bahaya dan mengaruniakan manfaat, member dan menahan pemberian, yang mengharuskan ketergantungan berdoa, rasa takut,berharap, bertawakkal dan macam-macamibadaha lainnyaklepadaAllah saja. Barang siapa menggantungkan hal itu dengan Allah dan menjadikan orang yang tidak berkuasa menentukan bahaya,kematian,kehidupan, dan kebangkitan sebagai sosok yang serupa dengan Dzat yang memiliki segala pujian, seluruh kerajaan, kepada-Nya semua urusan dikembalikan dan ditangan-Nya semua kebaikan. Kendalui semua urusan ada ditangan-Nya dan kembali kepada-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki pasti tidak terjadi.

K e s i m p u l a n .
Dari uraian yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Ada sebagian kaum muslimin dewasa ini yang masih melakukan perbuatan jahiliyah yang diwarisi dari kepercayaan aninisme dan dinamisme , berupa permintaan pertolongan dan perlindungan dengan memberikan sesajen sebagai persembahan kepada sesuatu selain Allah karena diyakini sesuatu tersebut dapat memberikan pertolongan dan perlindungan kepada mereka. Dengan dalih sebagai tradisi budaya dari leluhur yang perlu dipertahankan dan dilestarikan.
2. Al-Qur-an dan As -sunnah secara gamblang dan tegas menyatakan bahwa meminta pertolongan dan perlindungan , wajib hanya disampaikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah Ta’ala lah yang berhak untuk disembah dan dimintai perlindungan serta pertolongan. Permintaan perlindungan dan pertolongan kepada selain Allah sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dengan memberikan sesajen kepada roh-roh dan makhluk halus yang dianggap sebagai penguasa alam, telah menyalahi syar’iat.
3. Al-Qur’an dan as-sunnah adalah tolok ukur untuk menilai apakah prilaku dalam kehidupan kaum muslimin sudah sesuai dengan ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah melalui wahyunya dan yang disabdakan oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits beliau , dan apabila ternyata tidak bersesuaian maka tertolak atau bathil.
4. Karena permintaan pertolongan dan perlindungan kepada sesuatu yang dianggap sebagai penguasa alam dan roh-roh makhluk halus yang dilengkapi dengan pemberian sesajen sebagai bentuk persembahan, merupakan kepercayaan yang bathil dan bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-sunnah adalah termasuk dalam katagori menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia termasuk syirik.
Wallaahu Ta’ala ‘alam.
B ahan bacaan :
1. Al-Qur’an dan terjemahan oleh Departemen Agama RI.
2. Ringkasan Shahih Bukhari oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Bani.
3. Ringkasan Shahih Muslim oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Bani.
4. Ayat-ayat Larangan dan Perintah dalam Al-Qur’an oleh K.H Qomaruddin Shaleh dkk.
5.Fathul Majid Penjelasan Kitab Tauhid oleh Syaikh Abdrurrahman Alu Syaikh.
6. Ensiklopedi Islam Al-Kami oleh Syaikh Muhammadbun Ibrahin bin Ab ddulah At-Tuwaijiri.
7. Kumpulan kultum Setahun oleh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub.
8. Pemurnian Akidah oleh Abu Bakar Al-Jazairi.
9. Mantan Kiai NU Meluruskan Ritual-Ritual Kiai Ahli Bid'ah Yang Dianggap Sunnah
Diselesaikan waktu dhuha .15 Dzulqa’idah 1432 H/13 Oktober 2011

Selasa, 11 Oktober 2011

" Menuai Manisnya Buah Musibah "



By : Musni Japrie

P e n d a h u l u a n


Seperti diketahui bahwa selama ini sebagian masyarakat memaknai musibah itu lebih kepada pengertian bencana yang menimpa seseorang atau banyak orang yang berakibat fatal seperti kecelakaan yang menimpa seseorang ataupun bencana alam yang lebih luas lagi. Namun sebenarnya musibah itu sangat luas pengertiannya dan meliputi kejadian apa saja yang menimpa seseorang yang menimbulkan perasaan atau penderitaan sekecil apapun, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :
, “Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari).
Dari pengertian hadits Rasullullah tersebut diatas maka dapatlah dimaknai bahwa musibah itu termasuk hal-hal yang kecil seperti keletihan, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundahan hingga duri yang menusuk, berbagai penderitaan yang menimpa manusia. Dan tentunya termasuk pula hal-hal yang lebih besar seperti kematian, kecelakaan dan banyak lagi yang lainnya seperti bencana alam yang menimpa banyak orang.
Dalam menyikapi musibah yang menimpa baik berupa musibah yang sifatnya hanya kecil maupun yang besar seperti kecelakaan, kematian ataupun bencana masing-masing orang menunjukkan reaksi yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang menerimanya dengan lapang dada,ada yang menunjukkan reaksi yang sepertinya tidak ridha menerimanya dan bahkan ada yang sangat berlebihan. Dan menganggap musibah itu bukan dari Allah datangnya tetapi akibat ulah seseorang.

Musibah Merupakan Ketetapan Dari Allah Bagi Manusia

Sebagaimana yang sering disinggung oleh para ulama, bahwa seluruh makhluk yang diciptakan Allah mengikuti skenario yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu Ta’ala dalam takdir 50.000 tahun sebelum bummi diciptakan, yang tentunya termasuk di dala nya segala sesuatu yanbg berhubungan dengan kehidupan bani adam baik berupa kebahagian atau kesengsaraan seperti musibah yang menimpa manusia, baik yang sifatnya berbentuk musibah kecil untuk masing-masing orang maupun musibah berskala besar yang menimpa umat manusia. Hal tersebut ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu Ta’ala :

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
‘Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ ( QS. Yunus : 107 )

Apapun yang menimpa manusia berupa takdir sebagai suatu ketetapan yang datangnya dari Allah Subhanahu Ta’ala tidak akan lepas dari manusia seperti yang disebutkan Allah dalam firman-Nya
قُلْ لَنْ يُصِيْبَنَا إلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَاْليَتَوَكَّلِ اْلمُؤْمِنُوْنَ
Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal”( QS.at-Taubah : 51 )
Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”
(Qs. at-Taghabun: 11)
Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya Beliau -Ibnu Katsir- juga menukil keterangan al-A’masy yang meriwayatkan dari Abu Dhabyan, dia berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas berlaku umum untuk semua musibah, baik yang menimpa jiwa/nyawa, harta, anak, orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Maka segala musibah yang menimpa hamba adalah dengan ketentuan qadha’ dan qadar Allah. Ilmu Allah telah mendahuluinya, kejadian itu telah dicatat oleh pena takdir-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana dan hikmah/kebijaksanaan Allah memang menuntut terjadinya hal itu. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah hamba yang tertimpa musibah itu menunaikan kewajiban dirinya ketika berada dalam kondisi semacam ini ataukah dia tidak menunaikannya? Apabila dia menunaikannya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah di dunia dan di akherat. Apabila dia mengimani bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah sehingga dia merasa ridha atasnya dan menyerahkan segala urusannya -kepada Allah, pent- niscaya Allah akan tunjuki hatinya. Dengan sebab itulah ketika musibah datang hatinya akan tetap tenang dan tidak tergoncang seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang tidak mendapat karunia hidayah Allah di dalam hatinya. Dalam keadaan seperti itu Allah karuniakan kepada dirinya -seorang mukmin- keteguhan ketika terjadinya musibah dan mampu menunaikan kewajiban untuk sabar. Dengan sebab itulah dia akan memperoleh pahala di dunia, di sisi lain ada juga balasan yang Allah simpan untuk-Nya dan akan diberikan kepadanya kelak di akherat. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hanya akan disempurnakan balasan bagi orang-orang yang sabar itu dengan tanpa batas hitungan.”
Beliau melanjutkan, dari sinilah dapat dimengerti bahwa barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah ketika terjadinya musibah dan dia meyakini bahwa apa yang terjadi sekedar mengikuti fenomena alam dan sebab-sebab yang tampak niscaya orang semacam itu akan dibiarkan tanpa petunjuk dan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba disandarkan hanya kepada kekuatan dirinya sendiri maka tidak ada yang diperolehnya melainkan keluhan dan penyesalan yang hal itu merupakan hukuman yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum hukuman di akherat akibat telah melalaikan kewajiban bersabar. Di sisi yang lain, ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman terhadap segala perkara yang diperintahkan untuk diimani, seperti iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik dan yang buruk, dan melaksanakan konsekuensi keimanan itu dengan menunaikan berbagai kewajiban, maka sesungguhnya hal ini merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan petunjuk Allah dalam menyikapi keadaan yang dialaminya sehingga dia bisa berucap dan bertindak dengan benar. Dia akan mendapatkan petunjuk ilmu maupun amalan. Inilah balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka orang-orang beriman itulah orang yang hatinya paling mendapatkan petunjuk di saat-saat berbagai musibah dan bencana menggoncangkan jiwa kebanyakan manusia. Keteguhan itu ditimbulkan dari kokohnya keimanan yang tertanam di dalam jiwa mereka
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat di atas terkandung beberapa pelajaran yang agung, yaitu:
1.Segala musibah yang menimpa itu terjadi dengan qadha’ dan qadar dari Allah ta’ala.
2.Merasa ridha terhadap takdir tersebut dan bersabar dalam menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai-nilai keimanan, sebab Allah menamakan sabar di sini dengan istilahKesabaran itu akan membuahkan hidayah menuju kebaikan di dalam hati dan kekuatan iman dan keyakinan.

Musibah adalah juga sebuah teguran dari Allah kepada orang-orang beriman, namun lalai menjalankan perintah-Nya. Peringatan dari allah ini sudah seringkali tampak melalui beberapa peristiwa serupa yang seringkali melanda negeri kita. Namun selalu saja kita belum bisa memperbaiki diri, sikap dan perbuatannya. Padahal beberapa musibah yang terjadi ini adalah akibat dari perbuatan dan ulah kita sendiri sebagai bangsa.

Jika alam di negeri kita rusak, siapakah yg merusaknya? Tentu adalah kita sendiri yang merusaknya. Bukan negara lain, karena takkan ada negeri lain dapat merusak negara kita kecuali kita sendiri yang mengijinkan mereka.

Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41.
ظَهَرَ الفَسَادُ فِيْ الُبَرِّ وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ اَّلذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan lepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)."

Adapun bagi kita semua, rentetan musibah yang terjadi hendaklah menjadi tadzkirah (pengingat) bahwa bencana memilukan tersebut dapat terjadi ditempat kita jika Allah SWT menghendaki. Seharusnyalah bagi kita untuk selalu berdo’a, bertaqarrub, dan beristighfar semoga Allah SWT selalu menganugerahkan keselamatan dan ampunan bagi kita semua.

Dan jika demikian, maka Allah memberi peringatan kepada kita supaya kembali ke jalan yang benar. Perbuatan manusialah yang selama ini banyak merusak ekosistem dan lingkungan. Manusia yang serakah, selalu mengeksploitasi alam dan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Peringatan dari Allah yang berupa bencana menunjukkan bahwa Allah masih sayang kepada hamba-hamba-Nya dan menghendaki mereka untuk kembali ke jalan yang diridloi-Nya.

Musibah adalah juga sebuah teguran dari Allah kepada orang-orang beriman, namun lalai menjalankan perintah-Nya. Peringatan dari Allah ini sudah seringkali tampak melalui beberapa peristiwa serupa yang seringkali melanda negeri kita. Namun selalu saja kita belum bisa memperbaiki diri, sikap dan perbuatannya. Padahal beberapa musibah yang terjadi ini adalah akibat dari perbuatan dan ulah kita sendiri sebagai bangsa.

Jika alam di negeri kita rusak, siapakah yg merusaknya? Tentu adalah kita sendiri yang merusaknya. Bukan negara lain, karena takkan ada negeri lain dapat merusak negara kita kecuali kita sendiri yang mengijinkan mereka.

Allah Subhanahu Ta’ala berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41.
ظَهَرَ الفَسَادُ فِيْ الُبَرِّ وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ اَّلذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan lepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)."

Adapun bagi kita semua, rentetan musibah yang terjadi hendaklah menjadi tadzkirah (pengingat) bahwa bencana memilukan tersebut dapat terjadi ditempat kita jika Allah SWT menghendaki. Seharusnyalah bagi kita untuk selalu berdo’a, bertaqarrub, dan beristighfar semoga Allah SWT selalu menganugerahkan keselamatan dan ampunan bagi kita semua.

Balasan Pahala Di balik Musibah

Tidaklah kita ragukan barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (Qs. al-Baqarah: 155-157)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَلَيْهِ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (HR. Muslim)
Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ada kalanya Allah ta’ala memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (
Di antara pelajaran berharga bagi kehidupan kita dari hadits yang agung ini adalah:
1.Allah memiliki kehendak yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan diri-Nya.
2.Kebaikan dan keburukan semuanya ditakdirkan oleh Allah ta’ala.
3.Cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak menyebabkannya meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam perkara yang diharamkan.
4.Semestinya seseorang merasa khawatir atas kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab boleh jadi itu adalah istidraj/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, wal ‘iyadzu billah.
5.Wajibnya untuk berprasangka baik kepada Allah atas segala perkara dunia yang tidak mengenakkan yang menimpa diri kita.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa pemberian Allah kepada hamba-Nya tidak selalu mencerminkan bahwa Allah meridhai hal itu untuknya. Seperti contohnya orang yang setiap kali hendak minum khamr kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya, atau bahkan memperolehnya secara gratis. Maka ini semua bukanlah bukti kalau Allah menyukai hal itu untuknya
Mengapakah Allah menimpakan musibah kepada umat-Nya? Umat yang mengimani dan menyembah-Nya dalam ajaran yang benar dan hak? Mengapa bukan orang-orang kafir saja ditumpas dengan bencana? Jawabnya adalah, karena di balik setiap takdir, pastilah terdapat makna yang tersembunyi. Termasuk dalam beberapa musibah yang melanda kita. Dan bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah namun masih hidup setidaknya dapat memetik hikmah atas apa yang menimpa mereka.

Mereka yang lolos dari bencana adalah orang-orang yang beruntung karena masih sempat ditegur oleh Allah Subhanahu Ta’ala. Mereka yang lolos masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki kualitas ketaqwaan, keimanan dan hidupnya. Mereka masih sempat meminta ampunan kepada Allah SWT atas segala kesalahan serta berbuat kebajikan sepanjang sisa hidupnya untuk menghapuskan dosa.

Dan jika demikian, maka Allah memberi peringatan kepada kita supaya kembali ke jalan yang benar. Perbuatan manusialah yang selama ini banyak merusak ekosistem dan lingkungan. Manusia yang serakah, selalu mengeksploitasi alam dan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Peringatan dari Allah yang berupa bencana menunjukkan bahwa Allah masih sayang kepada hamba-hamba-Nya dan menghendaki mereka untuk kembali ke jalan yang diridloi-Nya.

Kita dapat menyadari bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yang tampak mengerikan. Karena sesungguhnya musibah yang menimpa kita merupakan:

Pertama, ujian kesabaran seorang mukmin, karena disaat musibah datang terlihat sekali sikap seorang hamba yang sebenarnya, apakah berbaik sangka atau justru sebaliknya berburuksangka atau bahkan menyalahkan dan mencacimaki Allah Subhananu Ta’ala, Allah Subhanahu Ta’ala berfirman;
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. al Baqarah : 214).
Dan memang pada dasarnya, hidup ini tak akan pernah lepas dari ujian Allah, kaya ataupun miskin, senang ataupun susah, semuanya adalah ujian Allah, Allah berfirman

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. al Mulk : 2).

Kedua,sebagai bukti betapa tidak berdayanya manusia dan begitu mahakuasanya Allah Subhnahu Ta’ala, jangankan mencegah budaya musibah, memprediksi kapan datangnya musibah secara valid manusia tidak sanggup. ketika pendekatan ini disadari oleh seorang mukmin, maka akan muncullah perasaan dirinya akan keagungan dan kemahakuasaan Allah ‘azzawajalla.).

Ketiga, musibah datang untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat seorang mukmin.Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).
Ada begitu banyak cara Allah agar dosa kita diampuni, mulai dari istighfar, bertaubat, memperbanyak amalan kebaikan dan sebagainya, tetapi kadangkala manusia lalai, disuruh beristighfar tidak mau, apalagi bertaubat kepada-Nya, tetapi karena Allah Maha Pengampun dan Penyayang kepada hamba-Nya, dosa hamba-Nya yang lalai tetap Allah ampuni, tetapi dengan cara menurunkan musibah, baik itu musibah yang sederhana seperti tertusuk duri atau musibah yang jauh lebih berat seperti gempa dan sebagainya. Semakin banyak musibah yang menimpa seseorang dan semakin besar penderitaan yang dialami seseorang akibat musibah maka begitu banyak pula balasan pahala yang diperoleh sebagai pengganti penderitaan yang dirasakannya di dunia.

Keempat, musibah juga menjadi salah satu cara (tarbiyah) Allah dalam mendidik dan menegur kesilapan dan dosa hamba-Nya. Allah berfirman,:
-
فَلَوْلا إِذْ جَاءهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَـكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al An’am : 43).
.
Kelima, beribadah ketika ada musibah tentu memiliki pengalaman yang khas dan pahala yg berlipat-lipat kali ganda. Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah bersada,
“beribadah diwaktu ada ujian seperti hijrah kepadaku.” (HR. Muslim, no. 2948.

Keenam, kita mendapatkan kenikmatan setelah mendapatkan musibah, tentu nilainya berbeda dengan kenikmatan lainnya. Seperti orang yang sedang berada ditengah gurun padang pasir yang tandus, lalu dia mendapatkan seteguk air untuk mengobati rasa dahaganya. Dia akan merasakan betapa berharganya seteguk air itu dibanding seteguk air yang dia minum dirumahnya yang mewah dan berlimpah air segar. Kondisi semacam ini menggiring siapa saja untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhananhu Ta’ala.

K h a t i m a h

Sesungguhnya Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang tidaklah pernah sedetikpun melupakan hamba-hamba-Nya yang beriman,lagi-lagi bagi yang mendapatkan musibah dan bersabar amusibah yang mereka terima dan ridha atas ikhlas menerima apa saja ketetapan yang datangnya dari Alllah Subhanahu Ta’ala dan tetap itiqomah dalam melaksanakan segala perintahnya meskipun ditengah-
tengah deraan musibah yang tiada hentinya datang menimpa dirinya. Karena Allah pasti dijamin akan memenuhi janjinya dengan memberikan imbalan pahala dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan seperti daun kering yang rontok berguguran. Yang ujung-ujungnya diakhirat mendapatkan kebaikan.Insya Allah kiktga akan dapat menuai manisnya buah musibah karena kesabaran atas musibah yang menimpa kita.
( Waallahu Ta’ala ‘alam )

Dipetik dari berbagai sumber. 8 Oktober 2011

Sabtu, 01 Oktober 2011

Dampak Buruk Perbuatan Maksiat



By : Musni Japrie

P e n d a h u l u a n

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Dua ayat al-Qur’an tersebut diatas sengaja ditampilkan sebagai prolog dari artikel singkat ini untuk menggambarkan bahwa dosa-dosa buah dari akibat kemaksiatan yang dikerjakan oleh para bani Adam dimuka bumi ini tidaklah akan dibiarkan begitu saja oleh Allah Subhanahu Ta’ala, melainkan telah diperhitungkan dan pada waktunya akan mendapatkan imbalan sangsi berupa hukuman. Sangsi yang dijatuhkan oleh Allah akan perbuatan manusia itu tidak saja akan diberikan diakhirat kelak berupa siksaan di neraka, tetapi juga kalau Allah berkehendak akan diberikaan pula dimuka bumi ketika manusia masih hidup, sehingga mereka merasakan sangsi sebagai akibat perbuatannya melanggar larangan dan tidak mentaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagian terbesar umat islam berusaha untuk menjauhi dan meninggalkan perbuatan bermaksiat kepada Allah Ta’ala seperti berbuat syirik secara nyata kepada Allah, berzinah, mencuri dan merampok, membunuh, menipu, memakan makanan yang haram seperti bangkai, darah dan babi, bunuh diri dan lain sebagainya. Hal tersebut dikarenakan mereka beranggapan perbuatan tersebut merupakan dosa besar. Namun demikian diantara mereka masih banyak yang melakukan kemaksiatan lain baik secara sadar atau tidak atau karena lupa, bahwa kemaksiatan yang membuahkan dosa sebagai akibat pelanggaran atas syari’at itu banyak jumlahnya walaupun diantaranya ada yang bersifat dosa-dosa kecil.
Betapa banyak orang-orang yang meninggalkan sholat fardhu dengan sengaja padahal sholat sebagai kewajiban pokok seseorang yang mengaku sebagai muslim, mereka melakukan sholat hanya 2 kali setahun pada saat idul fitri dan idul adha,itu dapat dibuktikan dengan membanjirnya jama’ah hingga kelapangan, tetapi tidak sedemikian adanya pada sholat jum’at. Lagi-lagi pada sholat fardhu 5 waktu, masjid dan surau atau mushalla kosong melompong dari jama’ah.Lebih-lebih lagi pada waktu sholat subuh. Sungguh memprihatinkan kondisi rumah-rumah ibadah muslim yang tidak dihiraukan oleh umatnya.
Perhatikanlah betapa banyak orang-orang yang secara sengaja melanggar larangan agama dengan meminum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, apalagi yang namanya merokok sudah tak terbilang lagi, tidak hanya orang-orang dewasa, anak-anak muda dan remaja tetapi juga anak-anak dibawah umur juga melakukannya. Sungguh kegiatan merokok sebagai perbuatan haram dan maksiat telah dilakukan secara terbuka dan dilakukan beramai-ramai.
Tak dapat terhitung banyaknya ragam kemaksiatan yang dikerjakan oleh anak manusia dinegeri ini selain apa yang disebutkan diatas, seperti mengghibah (menggunjing), memfitnah, berburuk sangka, menuduh, membuat kezaliman dalam berbagai bentuknya, makan riba, menipu, ingkar janji, membuka aurat, pergaulan bebas muda mudi, mencemarkan nama baik, mencuri, menggarong dan lain-lain sebagainya.

Peringatan Al-Qur’an tentang azab akibat perbuatan maksiat

Allah Subhanahu Ta’ala berfirman :
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kiab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.(QS Yusuf 109-111).
Sesungguhnya, terdapat banyak contoh dalam kisah-kisah tentang masyarakat di waktu lampau bagi orang-orang yang dikaruniai kepahaman. Kehancuran mereka yang disebabkan oleh pemberontakan mereka terhadap Allah dan penolakan terhadap perintah-perintah-Nya, kaum-kaum ini mengungkapkan kepada kita betapa lemah dan tidak berdayanya umat manusia dihadapan Allah.
Di dalam al-Quran banyak ayat-ayat yang menceritakan tentang akibat adanya perbuatan makasiat yang dilakukan oleh manusia, sehingga Allah menjadi marah dan kemudian menjatuhkan sanksi berupa hukuman-hukuman yang mengakibatkan kesengsaraan bagi sipembuat maksiat.
Iblis karena kesombongan dan keangkuhannya tidak mentaati perintah Allah Subhanahu Ta’ala yaitu membangkang untuk tidak mau bersujud kepada Adam, Allah lalu murka kepada Iblis serta mengusirnya keluar dari surge.
Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam ‘alaihissallam dengan Tangan-Nya, Ia memuliakannya di hadapan para malaikat dengan memerintahkan mereka sujud kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarinya nama-nama segala sesuatu serta menempatkannya bersama istrinya Hawa di dalam surga, tempat berhuninya beragam nikmat. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memperingatkan kepada keduanya dari bahaya godaan Iblis serta melarang keduanya dari memakan dari buah pohon di surga, sebagai ujian.
Tetapi Iblis yang terkutuk selalu menggoda dengan bujuk rayunya yang manis hingga Adam dan Hawa memakan dari pohon yang terlarang tersebut. Keduanya pun bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dengan serta-merta lepaslah baju keduanya sehingga tampak auratnya. Kemudian keduanya dikeluarkan dari surga ke bumi, tempat yang penuh dengan kekeruhan dan keletihan. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala masih sayang kepada mereka berdua di mana keduanya sadar akan kesalahannya dan bertaubat sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.
Perhatikan peristiwa yang menimpa Adam dan Hawa! Tadinya menempati surga dengan keindahannya serta dihormati oleh malaikat. Namun dengan satu kemaksiatan, kemuliaan dicabut, bajupun menjadi lepas sehingga tersingkap auratnya, serta harus menjalani kehidupan yang sengsara di dunia setelah sebelumnya hidup sentosa di surga.
Allah Ta’ala telah memberikan ganjara di dunia dengan berbagai pesan yang sangat jelas, baik itu berupa azab, kenikmatan, dan siksaan, semua telah berlaku pada umat terdahulu. Para pelaku keburukan dan kejahatan serta tindakan yang menyeleweng dan menyimpang seperti, kaumnya Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, penduduk Madyan, dan kaumnya Fir’aun, selama mereka berada di dunia, mereka sudah dihancur-leburkan oleh Allah Rabbul Aziz. Apalagi, bila yang berbuat maksiat itu bukan hanya rakyat , tapi justru para pemimpin, yang menjadi tauladan dalam kedurhakaan kepada Allah. Seperti berbuat tidak adil, berdusta (berbohong), bersumpah palsu, bertindak sewenang-wenang, menjauhkan rakyat dan kaumnya dari agama Allah, membunuh dengan tanpa alasan yang sangat jelas, dan dibolehkan oleh Allah. Maka, semua itu akan menyebabkan lahirnya bencana dan azab dari Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman :
وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُم مِّثْلَ يَوْمِ الْأَحْزَابِ
مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِن بَعْدِهِمْ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ
وَيَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ
يَوْمَ تُوَلُّونَ مُدْبِرِينَ مَا لَكُم مِّنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Wahai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Ad, dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tiak ada bagimu seseorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seseorang pun yang akan memberi petunjuk”. (al-Mukmin : 30-33).
.AllahSubhanahuwaTa'alaberfirman:
فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40)
Firman Allah Ta’ala :
-
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وِأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.( QS .At-Taubah : 70)

Firman Allah Ta’ala :
وَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مَّنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. “ (QS.Huud : 94 )

Dari beberapa ayat al-Qur’an yang dikutipkan sebagaimana tersebut diatas, jelas digambarkan bagaimana Allah Subhanahu Ta’ala telah memberikan sanksi hukuman akibat perbuatan maksiat kaum-kaum terdahulu dan hendaklah peristiwa yang telah berlalu cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang setelahnya. Karena orang yang baik adalah yang mampu mengambil pelajaran dari orang lain dan bukan menjadi pelajaran yang jelek bagi generasi setelahnya


Dampak Perbuatan Makasiat

Sesungguhnya banyak orang yang telah menyemai perbuatan maksiat namun mereka sepertinya tidak mempedulikan bahwa apa yang mereka semai akan mereka petik buahnya berupa dosa yang akan dibayar oleh Allah Ta’ala dalam bentuk hukuman tidak saja di akhirat kelak tetapi juga akan dirasakan dampaknya di dunia.
Para Ulama terdahulu dalam banyak tulisannya dibeberapa kitab menyebutkan bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan oleh anak manusia akan memberikan dampak antara lain :

Dosa menghalangi seorang dari memperoleh ilmu yang bermanfaat. Karenailmu merupakan cahaya yang Allah Subhanahu wa Ta'ala letakkan pada hati seseorang, sedangkan maksiat yang akan meredupkan cahaya tersebut. Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu duduk di hadapan gurunya, Al-Imam Malik, sang guru melihat kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i t. Maka ia berpesan kepadanya: “Sungguh, aku memandang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meletakkan pada hatimu cahaya, maka janganlah kau padamkan dengan gelapnya kemaksiatan.”

Maksiat menyebabkan seorang terhalang dari rizki, sebagaimana sebaliknya yaitu takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mendatangkan rizki.

Adanya kegersangan pada hati orang yang berbuat maksiat dan kesenjangan antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Disulitkan urusannya, sehingga tidaklah ia menuju kepada suatu perkara kecuali ia mendapatkannya tertutup.
Kegelapan yang ia dapatkan pada hatinya. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: “Sesungguhnya kebaikan mendatangkan sinar pada wajah, cahaya di hati, luasnya rizki, kuatnya badan, dan dicintai oleh makhluk. Sedangkan kejelekan (kemaksiatan) akan menimbulkan hitamnya wajah, gelapnya hati, lemahnya badan, berkurangnya rizki, dan kebencian hati para makhluk.

Kemaksiatan melenyapkan barakah umur serta memendekkannya. Karena, sebagaimana kebaikan menambahkan umur, maka (sebaliknya) kedurhakaan memendekkan umur.

Setiap kemaksiatan adalah melahirkan kemaksiatan yang lainnya.Orang yang minum minuman keras lalu mabuk dan lupa diri sehingga dengan mudahnya melakukan perzinahan kemudian, akibat minuman keras sering terjadi pertengkaran, perkelahian dan berujung pada saling bunuh.

Kemaksiatan menjadikan seorang hamba hina di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Mereka (pelaku maksiat) rendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga mereka bermaksiat kepada-Nya, karena seandainya mereka orang yang mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala niscaya Allah akan jaga mereka dari dosa.

Kemaksiatan mengundang kehinaan, merusak akal. Dan jika dosa telah banyak maka pelakunya akan ditutup hatinya sehingga digolongkan sebagai orang–orang yang lalai.

Dosa memunculkan berbagai kerusakan di muka bumi, pada air, udara, tanaman, buah-buahan, dan tempat tinggal.
Kemaksiatan menghilangkan sifat malu yang merupakan pokok segala kebaikan serta melemahkan hati pelakunya.
Kemaksiatan menyebabkan hilangnya nikmat dan mendatangkan adzab. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Tidaklah turun suatu bencana kecuali karena dosa, dan tidaklah dicegah suatu bencana kecuali dengan taubat. Allah
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Diantara dampak perbuatan maksiat lainnya, yaitu hilangnya anggapan maksiat itu jelek. Orang yang gemar melakukan perbuatan maksiat, berarti sama dengan menorehkan titik hitam di dalam hatinya, sampai akhirnya tertutup dengan titik-titik itu akibat dosanya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dengan sanad yang jayyid (bagus), dari Abu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْقُرْآنِ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya seorang mukmin, jika melakukan satu perbuatan dosa, maka ditorehkan di hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, berhenti dan minta ampun, maka hatinya akan dibuat mengkilat (lagi). Jika semakin sering berbuat dosa, maka titik-titik itu akan bertambah sampai menutupi hatinya. Itulah raan yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an.Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. [Al Muthaffifin:14].[6]

Pemilik hati seperti ini, tidak akan bisa membedakan antara yang baik dan buruk dalam pandangan Allah dan RasulNya, kecuali sesuatu yang dianggap baik atau buruk oleh hawa nafsunya. Tolok ukurnya bukan lagi firman Allah atau sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia tidak menganggap jelek perbuatan maksiat yang dinyatakan jelek oleh Allah dan RasulNya, sehingga ia tidak merasa malu melakukan perbuatan maksiat di hadapan khalayak. Ia melakukan perbuatan maksiat dengan terang-terangan, bahkan dengan bangga ia menceritakan perbuatan maksiatnya yang tidak diketahui oleh orang lain. Orang-orang seperti ini termasuk golongan orang-orang yang tidak mendapatkan ampunan dari Allah, terhalangi dari pintu taubat baginya, bahkan biasanya tertutup. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
Setiap umatku akan dimaafkan, kecuali mujahirin (pelaku maksiat dengan terang-terangan). Dan termasuk dalam mujaharah (berbuat maksiat dengan terang-terangan), (yaitu) seseorang melakukan satu perbuatan pada malam hari, kemudian dia memasuki waktu pagi dan Allah menutupi perbuatannya itu, lalu ia mengatakan “Wahai, fulan. Semalam aku melakuan ini dan itu” Dia tidur semalam dan Allah menutupi perbuatannya, lalu ketika memasuki waktu pagi dia membuka tabir Allah. [HR Bukhari Muslim].[7]

Perbuatan maksiat juga akan melemahkan hati. Ini merupakan akibat yang paling mengkhawatirkan atas seorang hamba. Dosa akan melemahkan keinginan hati, keingian berbuat maksiat semakin menguat, sementara keinginan untuk bertaubat sedikit demi sedikit semakin melemah. Sampai akhirnya, keinginan untuk bertaubat hilang sama sekali. Kalau seandainya, hati seseorang mati separuh saja, maka dia tidak akan bisa bertaubat, (apalagi kalau mati total). Akibatnya, dia akan sering melakukan istighfar atau taubat dusta, sementara hatinya tertambat dengan perbuatan maksiat, dan dia tetap berazam untuk melakukannya ketika kondisi memungkinkan. Inilah penyakit hati yang paling berat dan paling dekat kepada kehancuran.
Jangan Menganggap remeh Dosa

Kebanyakan orang sekarang ini menganggap remeh suatu dosa terlebih jika itu dosa dikatagorikan sebagai dosa kecil. Sehingga ia terus-menerus melakukannya dan tidak memperdulikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan akan hal ini dengan sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى حَمَلُوا مَا انْضَجُّوا بِهِ خُبْزَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dengan membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang. Dan sesungguhnya dosa-dosa kecil, ketika pelakunya diadzab dengannya maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani), Waspadalah dari dosa dan jangan tertipu karena kecil atau sedikitnya. Lihatlah bagaimana dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong tangan seorang pencuri karena mencuri (hanya) 3 dirham seperti dalam Shahih Al-Bukhari (no. 6795).
Dan seorang wanita masuk neraka gara-gara kucing yang dikurungnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak melepasnya agar bisa memakan serangga bumi sehingga kurus dan mati. (Muslim)
Demikian pula dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga para sahabat memberikan ucapan selamat kepadanya. Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Tidak. Sesungguhnya pakaian yang dia curi dari harta rampasan perang Khaibar yang belum dibagi-bagi akan menyala atasnya api neraka.” [Muslim]

K e s i m p u l a n

Dari uraian diatas maka seyogyanya kita menyadari bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan oleh kebanyakan orang sebagai bentuk pelanggaran dari perintah agama akan membuahkan dosa yanmg berujung kepada dijatuhkannya sanksi baik nanti diperhitungkan diakhirat dan juga akan dirasakan dampaknya di dunia baik oleh orang perorang maupun oleh masyarakat luas yang termasuk di dalamnya mereka-mereka yang tidak berdosa. Contohnya berbagai musibah bencana alam. Karenanya hendaknya kita berupaya untuk menujauhi dan meninggalkan b erbagai bentuk kemaksiatan sekecil apapun, apalagi kemasksiatan yang termasuk dalam dosa besar.
Janganlah kita sampai meninggalkan istigfar meminta ampun atas segala bentuk kesalahan dan kelalaian kita dari Allah Subhanahu Ta’ala Yang Maha Pengampun. ( Wallaahu Ta’ala ‘alam)
Dipetik dari berbagai sumber
Samarinda,1- September 2011/4- Dzulqa’idah 1432 H