Jumat, 14 September 2012

PESTA SELAMATAN SYUKURAN HAJI PERBUATAN BID'AH




By :Musni Japrie

Tinggal menghitung hari lagi saudara-saudara kita kaum muslimin yang mendapatkan rahmad dari Allah Subhanahu Wata’ala akan berangkat menunaikan ibadah haji menuju Makkah. Menjelang keberangkatan, mereka disibukkanlah oleh kegiatan melakukan syukuran, dengan mengundang orang-orang untuk datang kerumah mereka persis layaknya seperti acara perkawinan.

Penulis beberapa waktu yang lalu menerima sepucuk undangan dari seorang kenalan yang akan menunaikan ibadah haji, undangan tersebut berisi kata-kata:

Dengan mengucapkan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala atas izin dan kehendak Allah Subhanahu Wata’ala, kami mengundang bapak/ ibu/sdra/sdri kiranya dapat hadir dalam acara syukuran sehubungan dengan rencana kami berdua suami isteri akan menunaikan ibadah haji tahun ini.

Demikian sepenggal kutipan dari surat undangan yang kami terima dari seorang sahabat yang akan berangkat menunaikan ibadah haji bersama dengan isterinya.
Setelah membaca surat undangan itu, langsung didalam pikiran muncul pertanyaan, mengapa harus melakukan acara syukuran segala, padahal menunaikan haji adalah salah satu kewajiban sebagaimana yang dituangkan dalam rukun islam, yang kedudukannya sama wajibnya seperti sholat,berpuasa dan zakat. Sedangkan ibadah wajib tersebut dalam pelaksanaannya sama sekali tidak pernah ada terdengar orang mengadakan hajatan sjukuran dengan mengundang orang-orang secara beramai-ramai. Apa bedanya dengan sholat dan puasa,kenapa kalau akan sholat dan puasa tidak mengundang orang untuk syukuran.

Mengamati penyelenggaraan acara syukuran haji yang sekarang sudah menjadi tradisi dan membudaya ditengah-tengah kalangan kaum muslimin, sebenarnya baru berkembang dalam sepuluh tahunan terakhir ini. Sedangkan sebelumnya tidak pernah ada acara yang seperti itu. Jadi acara syukuran ini sebenarnya baru saja muncul dikalangan umat islam. Lagi-lagi apabila dilihat dari kaca mata syari’at islam, samasekali tidak ada satu keteranganpun atau satu haditspun baik yang ma’udhu/palsu, dha’if apalagi yang shahih yang menyinggung adanya syukuran berangkat haji. Sehingga acara syukuran haji hanya dibuat-buat oleh orang-orang yang suka membuat-buat atau menambah-nambah dalam agama, dimana para ulama maupun kiayi mendiamkan dan malah sepertinya merestui sehingga banyak orang-orang menirunya, dan menganggap sykuran selamatan tersebut merupakan suatu kebaikan. Mengingat didalamnya ada kebaikan berupa silaturahim dan memberikan makan kepada undangan yang mempunyai nilai ibadah.

Untuk menunaikan ibadah haji sekarang ini selain harus menyediakan biaya untuk ONH yang besarnya berberapa -puluh juta, juga harus diperhitungkan pula untuk ongkos selamatan syukuran. Sehingga semakin memberatkan bagi mereka yang akan berangkat haji, terutama bagi kalangan yang mempunyai dana pas-passan saja. Karena merasa malu atau tidak enak dengan tetangga apabila tidak melakukan syukuran, maka dipaksa-paksakan kanlah bagaimana caranya agar acara syukuran tersebut diselenggarakan dengan mengundang orang-orang dalam jumlah yang banyak yang untuk itu harus pula disediakan makanan dengan berbagai menunya. Untuk keperluan tersebujt tentulah tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan.

Banyak diantara orang-orang yang menyebutkan bahwa acara syukuran dengan mengundang seluruh sanak keluarga, sahabat,kerabat, handai taulan dan para kenalan adalah untuk memberitahukan bahwa sipengundang akan menunaikan ibadah haji, suatu ibadah yang tidak semua orang dapat melakukannya sehingga didalamnya terselip rasa bangga dan ini merupakan sikap riya yang dilarang dalam islam.

Islam sebenarnya telah melengkapi syari’atnya secara sempurna sampai kepada hal yang sifatnya kecil dan bahkan sepele dalam bentuk as-sunnah Rasul. Sebagai contoh bagaimana tata cara masuk wc, buang air dan beristinja sudah di patentkan . Apalagi yang sifatnya besar dan berkaitan dengan ibadah tidaklah akan tertinggal sedikitpun pengaturannya. Semua sudah lengkap dan tidak perlu ditambah-tambah dengan ketentuan baru yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mempunyai hak mengatur agama ini. Hak mengatur dan menetapkan ketentuan agama ini berupa syari’at hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasullulah shalalahu'alaihi wasallam. Tidak ada orang lain yang dibolehkan, setinggi apapun ilmunya dan setinggi apapun keulamaannya, diharamkam membuat ketentuan dan menambah hal-hal yang baru dalam agama. Ketetapan syari’at yang ditetapkan sejak awal oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam, sampai sekarang tetap sama dan tidak berubah.

Syari’at islam telah sempurna sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an surah al-Maa-idah ayat 3 : 
 
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah [394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya [395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah [396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini [397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa [398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[394] Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.
[395] Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.
[396] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: "lakukanlah", "jangan lakukan", sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.
[397] Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad r
[398] Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.
“Pada hari ini Aku telah sempunakan bagi kamu Agama kamu “
Sehingga tidaklah layak untuk ditambah-tambah lagi dengan hal-hal yang dianggap baik menurut pikiran dan hawa nafsu manusia belaka.

Mengingat haji adalah ibadah, maka apapun yang berkaitan dengan ibadah haji tersebut bila dilakukan diluar yang disyari’atkan maka itu adalah suatu kebid’ah – an yang terlarang .
Mengenai hal ini berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “ Majmu Fatawa IV: 107-108”: Bid’ah dalam islam adalah : segala yang tidak disyari;atkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yakni yang tidak diperintahkan baik dalam wujud perintah wajib atau berbentuk anjuran “

Hadits Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam riwayat Imam Bukhari rahimahullah dari Aisyah radhyallaahu ‘anhuma , ia berkata ::

سنن أبي داوود ٣٩٩٠: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
قَالَ ابْنُ عِيسَى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَنَعَ أَمْرًا عَلَى غَيْرِ أَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ
 
Sunan Abu Daud 3990:  dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah radliallahu 'anha ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam a bersabda: "Barangsiapa membuat-buat suatu perkara yang tidak ada dalam agama kami, maka akan tertolak." Ibnu Isa menyebutkan, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membuat perkara baru selain dari yang kami perintahkan maka akan tertolak."
Selain hadits tersebut diatas Imam Muslim rahimahullaah juga meriwayatkan sebuah hadits dari Aisyah radhyallaahu ‘anhuma, ia berkata : 
 
صحيح مسلم ٣٢٤٢: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَوْنٍ الْهِلَالِيُّ جَمِيعًا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 
Shahih Muslim 324 dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengada-ngada sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak perintahkan, maka hal itu tertolak."
 
Dan hadits yang paling keras yang membicarakan tentang hal-hal yang baru dalam agama yang dikenal dengan sebutan bid’ah adalah sebagai mana riwayat dari Imam Muslim rahimahullaah :
 
صحيح مسلم ١٤٣٥: و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ
و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا كَانَتْ خُطْبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِ ذَلِكَ وَقَدْ عَلَا صَوْتُهُ ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِهِ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَخَيْرُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ

Shahih Muslim 1435:  dari Jabir bin Abdullah ia berkata, bahwasanya; Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda: "Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (yakni jari telunjuk dan jari tengah)." Kemudian beliau melanjutkan bersabda: "Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat." Kemudian beliau bersabda: "Aku lebih utama bagi setiap muslim daripada dirinya sendiri. Karena itu, siapa yang meninggalkan harta, maka harta itu adalah miliki keluarganya. Sedangkan siapa yang mati dengan meninggalkan hutang atau keluarga yang terlantar, maka hal itu adalah tanggungjawabku." Dan telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepadaku Ja'far bin Muhammad dari bapaknya ia berkata; Saya mendengar Jabir bin Abdullah berkata; Isi khutbah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Jum'at adalah, beliau memuji Allah, dan membaca puji-pujian atas-Nya, kemudian berliau menyampaikan khutbah dengan suara yang lantang. Kemudian ia pun menyebutkan hadits. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Ja'far dari Bapaknya dari Jabir berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika berkhotbah, beliau memuji Allah dan bersyukur kepadaNya kemudian beliau melanjutkan dengan kata; "Barangsiapa yang Allah memberinya petunjuk, niscaya tidak ada yang akan menyesatkannya, dan barangsiapa yang sesat, niscaya tidak ada yang menunjukinya, dan sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, " kemudian hadits sebagaimana hadits Ats Tsaqafi.
 
Dari hadits-hadits yang dikutipkan tersebut,maka mengingat berbagai bentuk acara syukuran bukan merupakan bagian dari agama yang disyariatkan, yang termasuk di dalamnya acara syukuran utuk menunaikan haji adalah termasuk peruatan bid’ah yang tidak patut dan tidak layak dilakukan oleh kaum muslimin.

Menunaikan haji adalah merupakan ibadah yang akan mendapatkan ganjaran pahala dan merupakan perbuatan yang diwajibkan, maka perbuatan baik tersebut tidaklah boleh dicampur dan ditambahi dengan perbuatan munkar berupa acara syukuran yang bid’ah.

Mudah-mudahan kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang menegakkan sunnah sesuai dengan pemahaman para salafus shalih, sehingga kita selamat dari segala bentuk perbuatan bid’ah. ( Wallaahu Ta’ala ‘Alam )

Sabtu, 28 Syawal 1433H/ 15 September 2912, menjelang -dhu'ha
Sumber :
1. Al-Qur'an dan Terjemahan, www. salafi-db.com
2. Kitab  Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam, www.lidwapusaka.com
3.Risalah Bid'ah , Abdul Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pustaka Adullah

Rabu, 12 September 2012

PRIMBON, ZODIAK, FENG-SHUI DAN SHIO MENURUT ISLAM




Ilmu pengetahuan dewasa ini sudah sedemikian maju dan berkembang secara pesat, namun sangat disayangkan masih banyak orang –orang yang berpikir secara irasional dan terjebak dalam kungkungan pengaruh orang-orang yang mengaku sebagai orang pintar tapi sebenarnya bodoh ( jahil) .Orang-orang yang mengaku sebagai pintar yang dapat melihat kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang yang akan menimpa seseorang melalui ramalan-ramalan dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan kitab primbon, zodiac, fengsui dan shio.
Betapa banyaknya orang-orang dinegeri ini yang mempercayai dan menyukai  berbagai ramalan ramalan yang disampaikan oleh orang yang menyebutkan dirinya sebagai orang pintar (paranormal) bukan sebagai dukun. Padahal hakekatnya adalah sama yaitu tiada lain sebagai nuzum atau tukang ramal. Tukang ramal itu sering pula disebut sebagai dukun
Kupasan berikut ini secara garis besar diketengahkan apa yang disebut primbon, zodiac, fengsui dan shio ditilik dari kacamata Islam.
Sekilas Tentang Primbon, Zodiak, Feng Shui dan Shio
Sebelum memasuki pembahasan materi pokok artikel ini, terlebih dahulu perlu disinggung sekilas mengenai apa primbon, zodiac, feng-shui dan shio, sehingga meski hanya dengan mengenal sepintas tentang hal-hal tersebut akan memudahkan untuk memahami  bagaimana sikap dan pandangan Islam terhadap hal-hal yang dibicarakan.
Apa Itu P r i m b o n ?
Primbon (paririmbon dalam bahasa Sunda) merupakan suatu bagian dari kebudayaan masyarakat (banyak diyakini oleh suku Jawa/Sunda) yang lekat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, yang biasanya dijadikan panutan/ gambaran tentang apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang atau digunakan untuk penilaian seseorang.
Kata primbon berasal dari kata dasar imbu yang berarti "memerah buah agar matang". Secara umum primbon dapat diartikan sebagai buku pengetahuan tentang berbagai hal. Wojo wasito dan Poerwadarminta (1980 :211) memberikan definisi primbon sebagai buku yang memuat astrologii dan mantra.
Primbon merupakan undang-undang atau kitab  penganut ilmu jawa kuno.  Mulai dari watak, rizki, jodoh, mimpi, ilmu pengobatan, bahkan  ramalan mengenai mati seseorang   bisa  di prediksi dengan perhitungan  yang berpedoman pada pasal-pasal kitab primbon tersebut. Kepercayaan terhadap primbon begitu kental dan mendarah daging hingga sampai saat ini kita yang  hidup di dunia modern masih terbawa  oleh ramalan-ramalan dalam kitab tersebut. Di lain sisi, sebenarnya primbon juga di percayai oleh suku-suku selain etnis jawa. Baik itu Sunda, Banjar, atau Dayak akan tetapi beda nama dan versinya saja
Semua ramalan kejadian dan peristiwa yang ada di primbon, diciptakan agar para penganutnya lebih mawas diri, berhati-hati dalam mengambil  langkah di setiap perjalanan hidupnya.   Semua ini oleh  para orang tua ( khususnya sebagian masyarakat jawa )  betul-betul di amalkan dan tak bisa hilang begitu saja dari lubuk hati, biar sudah memeluk agama tertentu atau di landa modernisasi.
Apa Itu Z o d i a k
Zodiak adalah tanda bintang seseorang yang didasarkan pada posisi matahari terhadap rasi bintang ketika orang tersebut dilahirkan. Zodiak yang dikenal sebagai lambang astrologi terdiri dari 12 rasi bintang (Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces). Zodiak ini biasa digunakan sebagai ramalan nasib seseorang, yaitu suatu ramalan yang didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak (disarikan dari website Wikipedia). Dalam islam, zodiak termasuk ke dalam ilmu nujum/Perbintangan.
Pelbagai media cetak seperti koran, majalah, dan tabloid, mulai dari terbitan ternama hingga yang bahkan tidak dikenal, hampir memasukkan ramalan bintang (zodiak) sebagai rubrik andalan mereka. Isi ramalan bintang yang dimuat di dalam media cetak, umumnya seperti ini:
Mereka-mereka yang lahir pada tanggal 22 Juli sampai dengan tanggal 21 Agustus  memiliki zodiac Leo. Mereka-mereka yang  berfbintang Leo tersebut pada saat tanggal ramalan akan hidup dengan kehangatan..Ada yang membuat Anda kembali semangat setelah sempat merasa pesimistis dengan kejadian yang begitu membekas.
Karir: Benar-benar dirintis dari bawah, Anda siap menjadi seorang dengan pekerjaan baru Anda Finansial: Lumayan untuk bisa berlibur pergi ke tempat yang Anda inginkan bersama keluarga Asmara: Belum tentu pengalaman pahit yang terulang kembali. Saat ini Anda juga merasa bahagia, apa pun yang dilakukan.
Ramalan bintang tidak sekadar memprediksi kejadian hidup, tetapi juga kisah asmara, kondisi keuangan, hingga kesehatan. Bahkan ada juga rubrik zodiak yang menerawang “nasib” pasangan kita. Keinginantahuan, yang menjadi sifat dasar manusia, ditenggarai penyebab utama mengapa rubrik ini selalu dinanti-nanti oleh pembaca. Apa yang terjadi di masa depan, memang selalu menimbulkan sensasi yang menegangkan. Itulah juga mengapa profesi paranormal—yang disebut-sebut bisa mengetahui apa yang terjadi di masa depan—meski mengandung unsur mistis tetap laris manis. Sesuai namanya, ramalan zodiak dibuat berdasarkan pergerakan bintang. Anehnya, jika kebetulan Anda menyelidiki nasib Anda (melalui ramalan bintang) dengan membuka paling tidak tiga sumber yang berbeda, pasti Anda akan menemukan isi ramalan yang berbeda-beda. Apakah ini berarti ada multi-interprerasi terhadap pergerakan bintang? Atau isi dari ramalan bintang, tak ubahnya karangan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dari sudut ilmiah?
Apa itu Feng Shui ?
Feng Shui (orang Indonesia sering mengucapkan ‘Hong Shui’) adalah warisan dan tradisi orang Cina. Feng shui sangat diterima dan menjadi begitu populer di banyak negara karena diangga dapat meningkatkan  taraf  kehidupan dan keberuntungan dengan sedikit biaya dan usaha. Feng shui dasar mudah dipelajari, namun merupakan subjek yang membutuhkan penjabaran rumus dan kedalaman analistik dan praktik..
\Feng shui (Cina Tradisional: ialah sistem estetik Cina kuno yang dipercayai menggunakan Hukum-hukum samawi (astronomi) dan bumi (geografi) untuk membantu kita memperbaiki hidup secara menerima aliran qi positif.
Perkataan 'feng shui' secara harfiahnya diterjemah menjadi "angin-air". Istilah ini dipetik dari satu rangkap dalam buku Zhangshu yang dikarang oleh Guo Pu ketika zaman Dinasti Jin:
Feng Shui adalah sistem estetika Cina kuno, dan sering dianggap sebagai suatu bentuk seni.
Feng Shui dipraktikkan di seluruh dunia dan telah ada sekitar 4.000 tahun lalu.
Feng Shui juga memiliki sisi spiritual dengan banyak ajarannya yang berkutat di sekitar hubungan spiritual antara Surga dan Bumi.
Seperti pada banyak spiritualitas Cina dan Asia Timur, Feng Shui ditujukan untuk menyeimbangkan energi Qi positif, yang kadang disebut pula sebagai Chi.
Qi adalah kekuatan hidup universal yang diyakini mengalir melalui segala sesuatu. Qi juga menjadi istilah yang digunakan dalam seni bela diri.
Ada dua Qi, positif dan negatif. Feng Shui bertujuan membawa Qi positif ke rumah Anda untuk mendapatkan keuntungan dan harmoni.
Selain Qi, dikenal pula Yin dan Yang. Ini adalah dua kutub yang harus tetap berada dalam keseimbangan sempurna dan harmoni.
Konsep keseimbangan merupakan salah satu tema utama dalam Feng Shui. Dalam Feng Shui, Anda harus berusaha menyelaraskan posisi benda-benda di rumah termasuk letak pintu, jendela, dan perabotan.
Sebagai contoh, bahwa dengan mengeluarkan televisi, komputer, dan peralatan olahraga dari kamar tidur, Anda akan membantu mengumpulkan Qi positif.
Kehadiran item ini membuat kamar tidur kurang harmonis, mencegah kamar tidur dari benar-benar menjadi tempat yang tenang untuk beristirahat.
Anda juga bisa menggunakan warna untuk mempengaruhi aliran energi di dalam kamar tidur. Hal ini sejalan dengan teori warna dalam psikologi. Intinya, warna dapat memengaruhi suasana hati seseorang.
Pilihan warna ‘Api’ (warna hangat) seperti merah, oranye dan kuning akan membawa kepercayaan diri dan pengakuan. Warna ‘Kayu’ seperti hijau dan cokelat akan membawa penyegaran, dan penyembuhan.
Anda tidak perlu mengecat sebuah ruangan dengan salah satu warna di atas. Bahkan dalam jumlah kecil, satu jenis warna sudah akan mampu membawa energi.
Sebagai contoh, Anda bisa memilih selimut berwarna biru untuk membawa ketenangan dan kelimpahan sementara memiliki tembok berwarna krem untuk membawa perlindungan dan stabilitas.
Posisi perabot juga penting. Lokasi pintu atau jendela bisa diatur untuk megoptimalkan aliran Qi dan energi positif di seluruh rumah.
Penempatan lemari pakaian, meja rias dan tempat tidur mungkin tampak seperti pilihan praktis, tapi Feng Shui menyatakan bahwa dengan meletakkan perabot dengan benar dapat mempromosikan energi positif dalam rumah Anda.[
Apa Itu Shio
Ilmu tentang meramal masa depan tak hanya dimiliki oleh bangsa eropa namun juga bangsa Asia. Ramalan astrologi atau dunia perbintangan juga dimiliki oleh Bangsa Cina. Sama halnya seperti astrologi warisan bangsa babilon, astrologi cina juga terbagi menjadi 12 bagian.
Namun astrologi china atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Shio ini tidak dibagi berdasarkan bulan, namun dibagi berdasarkan siklus tahun cina, dan dinamakan dengan nama binatang. Nama binatang pada astrologi cina menggambarkan watak manusia yang lahir di bawah pengaruh shio tersebut.
Shio pada astrologi china adalah Tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing dan babi. Nama-nama tersebut dipakai berdasarkan legenda nama-nama binatang yang dipanggil sang Buddha saat beliau akan pergi ke Nirwana.Shio cina berganti pada setiap kalender cina yaitu pada setiap tahun baru imlek. Masing-masing orang tidak memiliki 1 karakter shio tapi 4 karakter/shio lainnya, yaitu shio tahun, karakter elemen yang dibawa, shio bulan dan shio jam. Selain memakai karakter binatang, shio juga memiliki elemen dasar seperti logam, kayu, api, air dan tanah yang karakternya berbeda satu sama lain.
Karakter tersebut mengacu pada kelima planet yaitu Venus (logam), Jupiter (kayu), Merkurius (Air), Mars (Api) dan Saturnus (Tanah). Kombinasi dari 12 karakter astrologi tahunan, elemen, karakter bulanan dan jam akan menghasilkan 12x5x12x12=8640 kombinasi. Karakter binatang bulanan mengacu pada pergerakan matahari hampir sama dengan apa yang dijelaskan pada astrologi pada umumnya.
Sama seperti astrologi barat, astrologi cina juga mengacu pada perputaran benda langit. Bedanya jika dalam astrologi barat terdapat 88 rasi bintang, Astrologi Cina hanya memiliki 28 rasi bintang saja. Shio pada awalnya dipercaya sebagai sarana untuk mengingat tahun lahir, berhubung pada jaman itu di Cina belum ditemukan kalender.
Karakter elemen alam yang dipakai pada astrologi cina yang melambangkan beberapa planet dinilai disebabkan karena pada waktu itu hanya 5 planet tersebut yang dapat dilihat dengan mata telanjang dari bumi, dan penamaannya didasarkan pada 5 elemen penting yang ada pada jaman tersebut.
Penetapan aturan shio sebagai standarisasi tahun rakyat Cina pertama kali dilakukan oleh Kaisar Cina yang pertama yaitu Shih Huang Ti yang juga membangun Dinasti Qin, yang menyatukan seluruh daratan Cina. Walaupun dikenal dictator, tapi kaisar ini memberikan banyak jasa dengan membakukan aksara cina, menetapkan mata uang, membangun tembok besar dan lain-lain.
Banyak juga yang mengatakan bahwa astrologi china diperkenalkan oleh bangsa India, Hotan dan Sogdiana dari orang-orang beragama Buddha yang berjalan melalui jalur Sutra sebelum Dinasti Qin. Shio juga merupakan tanda kebesaran bangsa Cina yang mampu menciptakan berbagai kebudayaan besar dan kemampuan mereka untuk menyingkap tabir alam semesta.
Semua Jenis Ramalan Bersinggungan dengan Hal Ramalan /
Dari uraian sekilas tentang primbon,zodiac,feng-shui dan shio yang dibicarakan diatas  seluruhnya tiada lain adalah yang berkaitan dengan kejadian  yang akan datang yang lazim disebut dengan ramalan.Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan kejadian yang ebenarnya merupakan hal yang ghaib bagi manusia. Karena seluruh hal yang berikatan dengan peristiwa yang akan datang merupakan bagian dari takdir.
Dalam Wikipedia Indonesia disebutkan bahwa :Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits.
Tidak ada seorangpun manusia yang mengetahui tentang takdir akan dirinya, karena pengetahuan tentang takdir itu hanya ada pada Allah, sehingga takdir bagi manusia termasuk hal yang ghaib dan wajib diimani.
Takdir bagi setiap makhluk telah ditetapkan oleh Allah subhanahu’wa ra’ala sebagaimana yang disebutklan dalam hadits :
سنن أبي داوود ٤٠٧٨: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ الْهُذَلِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ رَبَاحٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ أَبِي حَفْصَةَ قَالَ
قَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي
Sunan Abu Daud 4078 dari Abu Hafshah ia berkata; Ubadah bin Ash Shamit berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan dapat merasakan lezatnya iman hingga engkau bisa memahami bahwa apa yang ditakdirkan menjadi bagianmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagianmu tidak akan engkau dapatkan. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya: "Tulislah!" pena itu menjawab, "Wahai Rabb, apa yang harus aku tulis?" Allah menjawab: "Tulislah semua takdir yang akan terjadi hingga datangnya hari kiamat." Wahai anakku, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meninggal tidak di atas keyakinan seperti ini maka ia bukan dari golonganku."
Setiap anak manusia telah digariskan takdirnya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan masing-masing manusia dalam hidupnya hanyalah menjalani takdir yang telah ditetapkan baginya. Tidak ada seorangpun yang mengetahui secara pasti tentang takdir dirinya baik yang berkaitan dengan jodohnya,rezekinya maupun matinya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَقَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".( QS. Yusuf : 67 )
Firman Allah ta’ala :
قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah ( QS.Al Ahzab : 17 ).
Takdir bagi manusia ditetapkan oleh Allah azza wa jalla 50.000 tahun sebelum dunia diciptakan sebagaimana sabda Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :
صحيح مسلم ٤٧٩٧: حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا نَافِعٌ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي هَانِئٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُمَا لَمْ يَذْكُرَا وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
Shahih Muslim 4797: Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin 'Amru bin dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash dia berkata; "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.' Rasulullah menambahkan: 'Dan arsy Allah itu berada di atas air." Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Umar; Telah menceritakan kepada kami Al Muqri; Telah menceritakan kepada kami Haiwah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sahl At Tamimi; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam; Telah mengabarkan kepada kami Nafi' yaitu Ibnu Yazid keduanya dari Abu Hani melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Namun keduanya tidak menyebutkan lafazh: "Dan 'arsy Allah itu berada di atas air."
Segala sesuatu itu sesungguhnya itu sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa takdir sebagimana yang disebutkan dalam Hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :
صحيح مسلم ٤٧٩٩: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ زِيَادِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّهُ قَالَ أَدْرَكْتُ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُونَ كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ قَالَ
وَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ أَوْ الْكَيْسِ وَالْعَجْزِ
Shahih Muslim 4799: dari 'Amru bin Muslim dari Thawus dia berkata; "Saya pernah mendapati beberapa orang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan; 'Segala sesuatu itu sesuai takdirnya.' Ibnu Thawus berkata; 'Saya pernah mendengar Abdullah bin Umar mengatakan; 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Segala sesuatu itu sesuai takdirnya, hingga kelemahan dan kecerdasan (atau kecerdasan dan kelemahan.
Sesungguhnya manusia hanyalah menjalani sekanario yang telah digariskan, tmidak ada campur tangan manusia di dalamnya. Segala liku-luku dan seluk beluk kehidupan baik berupa kebaikan  maupun keburukan sudah tersurat dalam takdir. Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari menyebutkan :
صحيح البخاري ٤٥٦٨: حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الْأَرْضَ فَقَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ
{ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى }
الْآيَةَ
Shahih Bukhari 4568: dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Ali radliallahu 'anhu ia berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam rombongan pelayat Jenazah, lalu beliau mengambil sesuatu dan memukulkannya ke tangah. Kemudian beliau bersabda: "Tidak ada seorang pun, kecuali tempat duduknya telah ditulis di neraka dan tempat duduknya di surga." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau begitu, bagaimana bila kita bertawakkal saja terhadap takdir kita tanpa beramal?" beliau menajawab: "Ber'amallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada yang dicipta baginya. Barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahlus Sa'adah (penduduk surga), maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan Ahlus Sa'adah. Namun, barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahlusy Syaqa` (penghuni neraka), maka ia akan dimudahkan pula untuk melakukan amalan Ahlusy Syaqa`." Kemudian beliau membacakan ayat: "FA`AMMAA MAN `A'THAA WAT TAQAA WA SHADDAQA BIL HUSNAA (Dan barangsiapa yang memberi, dan bertakwa serta membenarkan kebaikan).."
Takdir bagi makhluk yang bernama manusia telah ditetapkan sejak awal dalam rahim sesuai dengan hadits :
صحيح مسلم ٤٧٨٥: حَدَّثَنِي أَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
وَرَفَعَ الْحَدِيثَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ نُطْفَةٌ أَيْ رَبِّ عَلَقَةٌ أَيْ رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقًا قَالَ قَالَ الْمَلَكُ أَيْ رَبِّ ذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الْأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ
Shahih Muslim 4785: dari Anas bin Malik -secara marfu'- dia berkata; "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengirim malaikat pada setiap rahim, dan malaikat itu berkata; Wahai Rabb nutfah, Rabb 'alaqah, Rabb mudhghah. Jika Allah Azza wa Jalla hendak menentukan takdir pada mahluk-Nya, Malaikat itu berkata "Wahai Rabb, laki-laki atau perempuan? celaka atau bahagia, bagaimana rizki dan bagaimana ajalnya?" Maka ditulislah ketetapan itu dalam perut ibunya".
Sebagai makhluk yang diciptalan Allah azza wajjala,  manusia wajib mengimani bahwa apa yang telah ditakdirkan menjadi bagian yang tidak pernah meleset dan apa yang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagian dari seseorang tidak akan didapatkan olehnya. Jalan hidup  manusia tidak pernah luput dari apa yang telah ditakdirkan sebagaimana  sabda rasullullah shallallahu’alahi wa sallam :
سنن أبي داوود ٤٠٧٨: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ الْهُذَلِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ رَبَاحٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ أَبِي حَفْصَةَ قَالَ
قَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي
Sunan Abu Daud 4078 dari Abu Hafshah ia berkata; Ubadah bin Ash Shamit berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan dapat merasakan lezatnya iman hingga engkau bisa memahami bahwa apa yang ditakdirkan menjadi bagianmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagianmu tidak akan engkau dapatkan. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya: "Tulislah!" pena itu menjawab, "Wahai Rabb, apa yang harus aku tulis?" Allah menjawab: "Tulislah semua takdir yang akan terjadi hingga datangnya hari kiamat." Wahai anakku, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meninggal tidak di atas keyakinan seperti ini maka ia bukan dari golonganku."
Takdir Merupakan  Rahasia Allah,  Termasuk Hal Yang Ghaib
Hal-hal yang berkaitan dengan masa depan atau sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan manusia ketetapannya dilakukan oleh Allah Yang Maha Mengetahui akan segala sesuatunya, dan itu merupakan hak pregogatif serta kewenangan Allah ta’ala. Tidak ada hak dari makhluk untuk ikut menetapkannya. Semuanya adalah rahasia Allah dan ghaib b agi manusia. Karena itu tidak sepantasnya manusia untuk meramalkan akan sesuatu kejadian sebagaimana yang diungkapkan dalam primbon, zodiac, feng-shui dan shio’.Segala bentuk ramalan yang dibicarakan dalam primbon, zodiac, feng-shui dan shio merupakan sesuatu yang berkaitan dengan  takdir , sedangkan takdir itu sendiri sudah ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala.Sedangkan takdir itu sendiri merupakan rahasia Allah dan hanya Allah yang maha mengetahui tentang sesuatu yang akan terjadi pada diri seseorang dan hal tersebut merupakan hal yang ghaib bagi manusia.
Seseorang yang mempercayai ramalan ramalan secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selain Allah yang mengetahui perkara gaib.
Allah Ta’ala berfirman:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا
 (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.(QS.Al Jin:26 )
إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS.Al Hujuraat: 18 )

Tidak ada seorangpun  yang mengetahui perkara ghaib, termasuk takdir yang telah ditetapkan Allah ta’ala sebagaimana firman-Nya :
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS.An Naml : 65 )
Jangankan manusia biasa Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam sendiri tidak mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali apa yang dikehendaki/diperlihatkan oleh  Allah ta’ala.  Akan hal ini sebuah hadits menyebutkan :
صحيح البخاري ٦٨٣٢: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ وَهُوَ يَقُولُ
{ لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ }
وَمَنْ حَدَّثَكَ أَنَّهُ يَعْلَمُ الْغَيْبَ فَقَدْ كَذَبَ وَهُوَ يَقُولُ لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
Shahih Bukhari 6832:  dari 'Aisyah radliyallahu'anhuma, ia berkata, "Barangsiapa menceritakan kepadamu bahwa Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam melihat Tuhannya berarti ia telah dusta, karena Allah berfirman: '(Ia tidak bisa dimengetahui oleh pandangan) ' (Qs. Al An'am: 103), dan barangsiapa menceritakan kepadamu bahwa ia tahu yang ghaib, berarti ia telah dusta, sebab Muhammad bersabda: 'Tidak ada yang tahu yang ghaib selain Allah'."
Di hadits lain juga disebutkan tentang hal-hal ghaib yang hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya termasuk apa yang akan  terjadi besok sesuai sabda Rasullullah shallallahu’alaihi was a llam :

صحيح البخاري ٤٢٦١: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
{ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ }
خَمْسٌ
{ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنْزِلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ }
Shahih Bukhari 4261: dari Salim bin 'Abdullah dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kunci-kunci hal yang ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta'ala: Sesungguhnya hanya Allah lah yang mengetahui datangnya hari kiamat, dan Dia lah Dzat yang menurunkan hujan, yang mengetahui janin yang ada dalam kandungan, dan jiwa manusia tidak mengetahui apa yang akan dapat diperbuatnya esok hari, dan ia juga tidak tahu di bumi mana dia akan mati, Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui."
Ramalan Termasuk Ilmu Nujum
Ramalan tentang sesuatu sebenarnya sudah berkembang sejak zaman jahiliyah dan  termasuk bagian dari Sihir sebagaimana yang disebutkan Rasullullah shalllahu’alahi wa sallam dalam sabda beliau :
مسند أحمد ٢٦٩٧: حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْأَخْنَسِ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُغِيثٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنْ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنْ سِحْرٍ مَا زَادَ زَادَ وَمَا زَادَ زَادَ
Musnad Ahmad 2697: dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum, maka sesungguhnya ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, semakin bertambah (ilmunya) semakin bertambah pula (dosanya), semakin bertambah (ilmunya) semakin bertambah pula (dosanya)."
Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah segala bentuk ramalan p merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa apabila ilmu nujumnya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiri adalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman :
وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa [76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan [77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat [78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangnalah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya [79]. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS.Al Baqarah :102)

K e t e r a n g a n :
[76] Maksudnya: kitab-kitab sihir.
[77] Syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).
[78] Para mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti Malaikat.
[79] Berbacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.
Ramalan Primbom,Zodiak,Feng-Shui dan Shio Adalah  Ramalan Dukun
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dalam kitabnya At-Tamhid menyebutkan setiap orang yang menyatakan bahwa ia mengetahui hal yang gaib, maka pada hakikatnya ia adalah dukun. Baik dia itu tukang ramal, paranormal, ahli nujum dan lain-lain. Oleh karena itu, ramalan yang didapatkan melalui primbon,zodiac.feng-shui maupun shio  sama saja dengan ramalan dukun. Hukum mempercayai ramalan yang berdasarkan kepada primbon, zodiak, feng-shui dan shio identik dengan mendatangi dukun.
Sedangkan dalam Islam telah digariskan bahwa hukum mendatangi dukun secara umum adalah haram sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam beberapa sabdanya:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَأَلَ أُنَاسٌ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْكُهَّانِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهُمْ لَيْسُوا بِشَيْءٍ. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ أَحْيَانًا بِالشَّيْءِ فَيَكُونُ حَقًّا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيُقَرْقِرُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ كَقَرْقَرَةِ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata: Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah tentang dukun-dukun. Rasulullah berkata kepada mereka: "Mereka tidak (memiliki) kebenaran sedikitpun." Mereka (para shahabat) berkata: "Terkadang para dukun itu menyampaikan sesuai dan benar terjadi." Rasulullah menjawab: "Kalimat yang mereka sampaikan itu datang dari Allah yang telah disambar (dicuri, red) oleh para jin, lalu para jin itu membisikkan ke telinga wali-walinya sebagaimana berkoteknya ayam dan mereka mencampurnya dengan seratus kedustaan." (HR. Al-Bukhari no. 5429, 5859, 7122 dan Muslim no. 2228)
Dihadits lain disebutkan bahwa Rasullullah shalllahu’alahi wa sallam bersabda :
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي حَدِيْثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللهُ بِاْلإِسْلاَمِ، وَإِنَّ مِنَّا رِجَالاً يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ: فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ. قَالَ: قُلْتُ: وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ. قَالَ: ذَلِكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلاَ يَصُدَّنَّهُمْ
Mu'awiyah ibnul Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu berkata: Aku berkata: "Wahai Rasulullah, saya baru masuk Islam yang datang dari sisi Allah, dan sesungguhnya di antara kami ada yang suka mendatangi para dukun." Beliau bersabda, "Jangan kalian mendatangi para dukun." Dia (Mu'awiyah ibnul Hakam) berkata: Aku berkata: "Di antara kami ada yang gemar melakukan tathayyur (percaya bahwa gerak-gerik burung memiliki pengaruh pada nasib seseorang." Beliau berkata: "Demikian itu adalah sesuatu yang terlintas dalam dada mereka, maka janganlah menghalangi mereka dari aktivitas mereka (untuk berangkat -pen/yakni gerakan burung itu jangan menghalangi orang-orang tersebut untuk berbuat sesuatu -ed)." (HR. Muslim, no. 735)
Betapa kerasnya larangan dalam Islam agar umatnya tidak mendatangi dukun atau yang sejenisnya seperti para normal  yang biasa disebut sebagai  orang-orang pintar, sehingga Rasullullah mengingatkan kepada seluruh umat beliau dengan bahwa bagi mereka yang menandatangani dukun /para normal atau orang pintar maka shalatnya tidak akan diterima sesuai dengan sabda beliau  :
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً
Diriwayatkan dari sebagian istri Rasulullah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, yang artinya: "Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam."
Di Hadits lain disebutkan pula sabda Rasullullah shallallahu’alahi wa sallam :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu dia membenarkan apa-apa yang dikatakan maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 2006, dinukil dari Al-Qaulul Mufid)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin mengatakan: "Dari hadits ini diambil hukum haramnya mendatangi dan bertanya kepada mereka (dukun). Sebab dalam mendatangi dan bertanya kepada mereka terdapat kerusakan yang amat besar, yang berakibat mendorong mereka untuk berani (mengerjakan hal-hal) dan mengakibatkan manusia tertipu dengan mereka, padahal mayoritas mereka datang dengan segala bentuk kebatilan." (Al-Qaulul Mufid, 2/64)
Sedangkan disisi lain mereka-mereka yang memberikan ramalan baik dengan menggunakan primbon, zodiac, feng-shui maupun shio mereka tersebut  mengklaim dirinya nmengetahui perkara ghaib, maka ia termasuk dalam golongan kaahin (tukang ramal) atau orang yang berserikat di dalamnya. Karena ilmu ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An Naml: 65).
Hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang jayyid dari ‘Imron bin Hushoin, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ
“Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya.”[
Nasib Baik dan Nasib Buruk
Sesungguhnya orang-orang yang mencari tahu ramalan nasib mereka, tidak lain dan tidak bukan dikarenakan mereka menginginkan nasib yang baik dan terhindar dari nasib yang buruk. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita cam dan yakinkan di dalam hati-hati kita, bahwa segala hal yang baik dan buruk telah Allah takdirkan 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana Nabi bersabda:
صحيح مسلم ٤٧٩٧: حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا نَافِعٌ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي هَانِئٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُمَا لَمْ يَذْكُرَا وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
Shahih Muslim 4797: Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin 'Amru bin dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash dia berkata; "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.' Rasulullah menambahkan: 'Dan arsy Allah itu berada di atas air." Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Umar; Telah menceritakan kepada kami Al Muqri; Telah menceritakan kepada kami Haiwah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sahl At Tamimi; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam; Telah mengabarkan kepada kami Nafi' yaitu Ibnu Yazid keduanya dari Abu Hani melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Namun keduanya tidak menyebutkan lafazh: "Dan 'arsy Allah itu berada di atas air."
 Hanya Allah yang tahu nasib manusia. Yang dapat dilakukan oleh manusia adalah berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan hal yang baik dan terhindar dari hal yang buruk, selebihnya serahkan semua hanya kepada Allah. Allah berfirman :
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS.Ath Thalaaq : 3 )

Ketahuilah  bahwa semua yang Allah tentukan bagi manusia  adalah baik meskipun di mata manusia  hal tersebut adalah buruk. Allah berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS.Al Baqarah : 216 )
 Berbaik sangkalah kepada Allah bahwa apabila mendapatkan suatu hal yang buruk, maka pasti ada kebaikan dan hikmah di balik itu semua. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Adil terhadap hamba-hambaNya.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 188)
P e n u t u p
Kebanyakan manusia mengaku bahwa mereka tidak pernah datang kedukun atau keakhli nujum untuk mengetahui tentang nasib mereka di hari esok, namun demikian diantara  mereka-mereka tersebut ada  percaya kepada primbon, sebagian lagi mepercayai zodiac, ada pula kalangan yang meyakini  feng-shui dan banyak pula mempercayai shio meskipun mereka-mereka tersebut mengaku sebagai muslim. Padahal hakikatnya semua tersebut tiada lain adalah ramalan. Sedangkan ramalan itu sesungguhnya ruang lingkupnya berkenaan dengan sesuatu yang akan terjadi di hari-hari mendatang yang merupakan perkara ghaib.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan apa yang akan terjadi dikemudian hari telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam takdir yang ditulis 50.000 tahun sebelum dunia diciptakan. Membicarakan ramalan pada hakikatnya membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan takdir, padahal takdir itu haknya Allah azza wa jalla, tidak ada hak dan kewenangan manusia di dalamnya. Sehingga siapa saja yang mengaku mampu mengetahui sesuatu yang ghaib maka sebenarnya mereka telah mengambil alih hak dan kewenangan Allah subhanahu wa ta’ala. Hal tersebut diharamkan dalam Islam karena termasuk syirik.
Baik buruknya nasib anak manusia telah digariskan Allah dan tidak selayaknya manusia mempercayai ramalan-ramalan baik melalui primbon, zodiak, feng-shui maupun shio. Karena ramalan merupakan bagian dari nujum dan nujum itu sendiri bagian dari sihir yang diharamkan dalam Islam ( Wallaahu’alam )
Sumber
1.Al-Qur’an dan Terjemahan, www.salafi-db.
2. Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam.www.lidwapusaka.com
3.Artikel www. ramalan bintang.org
4.Artikel www. Arsitekonline.com
5.Artikel www.answer Yaaho
6.Artikel www.kompasiana
7.Artikel www,muslimah.or.id
8.Artikel www.muslim.or.id
9.Majalah Asy-Syari'ah Vol. II/ No. 16/1426 H/2005
10.Buletin At-Tauhid
Samarinda , selesai disusun Selasa, ba’da ashar 24 Syawal 1433 H/12 September 2012.
( Musni Japrie )