Sabtu, 10 September 2011

" YA T U H A N "


Tuhan-ku
Resah dan gelisah menyergap diri
Tersesat di belantara hutan kehidupan duniawi
Kelam tiada cahaya dilorong labirin yang menggurita
Berliku lereng terjal menghempaskan diri
Riuh rendah ajakan untuk mengembara di dalamnya
Tuhan-ku
Mata hati ini buta dari melihat keindahan surgawi
Terselubung pandangan indah gemerlap duniawi
Hati ini membeku dibalut kesombongan
Tidak pernah tergetar dengan sentuhan iman
Terbuai dalam lumpur kehidupan menyesakkan

Tuhan-ku
Tangan ini tidak pernah menadahkan tangan kepada-Mu
Kaki ini tidak pernah diajak melangkah menuju-Mu
Pendengaran ini tidak berkesempatan mendengarkan kalimah-Mu
Mata ini belum pernah meneteskan air penyesalan
Lisan ini belum pernah dibasahi dengan istigfar

Tuhan-ku
Teteskan embun pagi menyegarkan di kalbu ini
Mencairkan kebekuan dalam iman kepada-Mu
Nyalakan lentera pencerah hati
Tuntunlah langkah ini kejalan ridha-Mu
Basuhlah lumpur dalam diri ini dengan ampunan-Mu
Hamparkan persada untuk bersujud menghadap-Mu

Tuhan-ku
Balutkan hati yang terbelah ini dengan cinta-Mu
Sisipkan dalam jiwa ini kerinduan untuk-Mu
Teteskan embun tangisku dalam penyesalan
Bentangkan tangan-Mu menerima taubatku
Puaskan hasratku untuk kembali bercinta dengan-Mu

Tepian Mahakam, 13 Syawal 1432 H
( by : musni japrie )

Jumat, 09 September 2011

SENJA DI BIBIR PANTAI



Kusapukan tatapan mata kelaut lepas
Memandangi alunan gelombang berebut menjilat pantai
Debur ombak memecah buih membasahi pasir putih
Dibawah mentari petang menebarkan cahaya lembut
Menyapa burung camar yang terbang meniti laut

Laut membiru tak berujung
Perahu nelayan beriringan berlomba melaut
Kepak sayap elang laut pulang kesarang
Rembang petang beringsut menjemput warna kemuning
Riuh hati gundah gulana menyapa alam di bibir pantai
Merenung dibawah belaian angin lembut desiran daun cemara laut

Pasang air laut menyentuh rasa membasahi diri
B erdiri lunglai menanti senja di bibir pantai
Sepuhan warna kekuningan di langit petang semakin memudar
Terhapus lukisan senja merah tembaga
Mentari jauh dikaki langit beranjak pamit keperaduan

Alunan syahdu seruan menuju sang maha Pencipta
Menggelitik jiwa membangkitkan rasa
Bersujud dipersada hamparan hijau
Melepas rindu yang bergayut mesra
Menghantarkan senja indah dibibir pantai
Menjemput purnama dalam kalbu yang mengharu biru

Samarinda, 9 Agustus 2011
( by : Musni Japrie )

Kamis, 08 September 2011

WUJUDKAN KESYUKURAN DENGAN KETAATAN



Bersyukur pada prinsifnya berhubungan erat antara hati dengan lisan dan anggota badan . hati untuk mengetahui dan mencintai, lisan untuk menyanjungdan memuji dengan kata-kata pujian sedangkan anggota badan untuk menggunakannhya dalam ketaatan kepada Allah yang disyukuri dan mencegah penggunaannya dalam melakukan kedurhakaan dan kemaksiatan kepada-Nya.
Allah Subhanaahu wa Ta’ala telah menyebutkan kata syukur beriringan dengan kata iman .Dan Dia mengabarkan b ahwa Dia tidak akan menyiksa makhluk-Nya jika mereka mau bersyukur dan beriman. Allah berfirman :
مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْ تُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.( QS . An-Nisa : 147)
Dengan firman tersebut Allah mengatakan jika kalian menunaikan tujuan penciptaan kalian –yaitu bersyukur dan iman untuk apa Aku menyiksa kalian.
Dengan firman tersebut Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang mau bersyukur adalah orang-orang yang diberi keistimewaan dengan karunia-Nya.
Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungny. Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan
jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 16:18)
Pemberian nikmat yang tak henti-hentinya setiap detik dan saat oleh Allah Yang Maha Pemberi kepada setiap makhluknya banyak yang tidak disadari oleh penerima nikmat sehingga mereka lupa bersyukur. Kebanyakan manusia baru mengucapkan syukur apabila nikmat yang diperoleh tersebut dianggap istimewa dari yang biasanya. Padahal manusia ini hidup dari nikmat-nikmat Allah yang tidak pernah putus-putusnya mengalir bagaikan air dari sumbernya.
. Bersyukur dengan amal perbuatan merupakan puncak dari kesyukuran atas nikmat yang Alllah Subhanaahu Ta’ala yang limpahkan kepada hamba-Nya. Yaitu dengan melakukanseluruh ketaatan berupa pengamalan setiap yang diperintahkan dan meninggalkan segalayang dilarang oleh syari’at.Pengamalan perbuatan yang bersifat kebaikan dan meninggalkan segala bentuk kemunkaran serrta kemaksiatan kepada Allah.
Allah Ta’ala menegaskan bahwa orang yang menyembah-Nya adalah orang-orang yang mau bersyukur dan orang yang tidak mau bersyukur adalah orang yang tidak mau menyembahnya. Allah b erfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikankepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah ( QS.Al-Baqarah : 172 )
Di dalam shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan b ahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam hingga telapak kakinya pecah-pecah. Dan ketika beliau ditanya: “Mengapa engkau lakukan ini sedangkan dosa-dosamu yangbtelah lalu dan yang akan datang sudah diampuni ?. Beliau menjawab:
“ Bukankah aku harus menjadi hamba yang pandai bersyukur
Pernahkah kita berpikir, untuk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak nikmat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan nikmat-nikmat tersebut atau ada tujuan lain? Ketahuilah bahwa kenikmatan yang berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakannya manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk sebuah kemuliaan baginya dan menjadikan segala nikmat itu sebagai perantara untuk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja
Bagi orang yang berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawabannya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya saja, maka dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.
Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada bersyukur dengan hati dan lisan, namun hendaklah ditambah dengan memanfaatkan kenikmatan tersebut dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat. Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al-Quran, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengah-tengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia. Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur. Intinya menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah (dengan anggota badan). Dengan demikian maka nikmat yang datangnya dari Allah Ta’ala hendaknya dimanfaatkan dalam amal ketaatan.
Nikmat yang diberikan ternyata banyak pula yang disalah gunakan oleh hamba-hambaNya dijalan kemaksiatan sehingga mengundang murkanya Allah. Hamba-hamba Allah yang memperoleh nikmat tak putus-putusnya dari Allah tidak berterimakasih kepada Sanmg Pemberi tetapi malah menggunakan nikmat tersebut melakukan hal-hal yang dilarang oelh-Nya.
Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu nikmat kemudian beralih kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung.
Semua ini tentunya mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita kehidupan, kita menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:-
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(QS.Luqman : 13 )
Allah dalam firman-Nya telah mengkaitkan antara syukur dengan penambahan nikmat, dimana bagi hamba-hamba yang bersyukur Allah akan menambah lagi nikmat-Nya. Dan tambahan nikmat dari-Nya tersebut tidak ada habis-habisnya , sebagaimana tentunya kesyukuran juga tidak pernah habis dan terhenti melainkan terus berkelanjutan.
Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".( QS. Ibrahim : 7 )
Firman Allah :
“Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” ( QS. Ali Imran : 145)

Syukur adalah pengikat nikmat dan penyebab bertambahnya nikmat. Seperti yang dikatakan Umar bin Abdul Aziz : “ Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada-Nya.Sedangkan Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Ali bin Abi TRhalib Radiallahu’ anhum bahwa ia pernah berklata kepada seorang lelaki dari Hamadzan :
“ Sesungguhnya nikmat Allah itu disambung dengan syukurdan syukur berhubungan erat denganbertambahnya nikmat. Keduanya selalu seiring sejalkan. Maka tambahannikmat dari Allah tidak akan berhenmti sampai manusia berhenti bersyukur.”

Meskipun Allah telah memberikan berbagai nikmat yang tidak terbatas jumlahnya, ternyata masih banyak hamba-hamba yang tidak mau bersyukur dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah dengan melakukan berbagai kemunkaran dan kemaksiatan. Tidak mau tunduk kepada syari’at yang digariskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang bersyukur amatlah sedikit diantara hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
“ Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang pandai bersyukur”.( QS. Saba’:13)

Dari uraian yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.Syukur adalah sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada pemberi nikmat dalam hal ini Allah Subhanahu Ta’ala dengan menyampaikan pujian dan sajungan yang paling tertinggi.
2.Tujuan diciptakannya manusia tiada lain hanyalah semata untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Pencipta
3.Rasa syukur diwujudkan dengan melakukan ketaatan kepada Allah berupa pelaksanaan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang.
4.Nikmat dari Allah akan bertambah apabila penerima nikmat mensyukuri akan nikmat-nikmat tersebut.
5.Nikmat adalah sarana yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya untuk melakukan ketaatan, bukan digunakan sebagai alat berbuat kemunkaran dan kemaksiatan .
( Wallaahu’alam )

Sumber pengambilan :
1.Al-Qur’an dan terjemahan
2.Tazkiyatun Nafs Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
3.Manajemen Qalbu Ulama Salaf Syaikh DR. Ahmad Farid

( by : Musni Japrie )

" KUFUR NIKMAT "




Purnama bertahta diatas singgasananya diufuk timur
Menyirimkan cahaya kemilau menerpa daun dan rerumputan hijau
Malam terang benderang bertaburan mutiara gemintang di kejauhan
Gemersik suara jangkerik menambah kesyahduan malam
Melukiskan indahnya malam dengan wewangian bunga memikat
Tergetarkah hati hamba memandang anugerah Illahi
Membisikkan tahmid memuji Sang Pemberi nikmat
Ataukah hanya terlena dan hanyut dalam hayal
Larut dalam suka ria yang melalaikan kesyukuran kepada-Nya

Betapa banyak anugerah nikmat yang tak ternilai
Mengalir dari sumber-Nya tak pernah surut
Silih berganti berdatangan beriringan menyapa setiap hamba
Dalam setiap desahan nafas terkandung nikmat tak terputus
Dalam setiap dentangan detik nikmat merajut jalinan hidup
Tetapi banyak hamba yang lupa kepada Rabb Sang Pemberi nikmat
Kebanyakan manusia hanya sibuk menghayati berbagai kenikmatan
Lisannya bisu dari melantunkan tahmid
Hatinya kaku dari mengagungkan Sang Khalik yang tak henti mengalirkan nikmat
Anggauta tubuhnya tak pernah mengamalkan ketaatan
Rukuk dan bersujud menghambakan diri di depan Sang Pencipta

Sungguh kebanyakan hamba telah ingkar
Kufur akan segala nikmat yang tidak dapat dihitung
Melupakan asal datangnya nikmat
Mereguk dengan rakus segala kenikmatan
Tidak segan menanggung beban hutang
Merangkul kenikmatan tanpa memberikan balasan
Walaupun hanya sekedar rasa syukur kepada Yang Memberi
Sungguh kebanyakan hamba telah kufur akan nikmat Allah

Tepian Mahakam, 7 Agustus 2011
( by: musni Japrie )

Rabu, 07 September 2011

" KUFUR NIKMAT '



Purnama bertahta diatas singgasananya diufuk timur
Menyirimkan cahaya kemilau menerpa daun dan rerumputan hijau
Malam terang benderang bertaburan mutiara gemintang di kejauhan
Gemersik suara jangkerik menambah kesyahduan malam
Melukiskan indahnya malam dengan wewangian bunga memikat
Tergetarkah hati hamba memandang anugerah Illahi
Membisikkan tahmid memuji Sang Pemberi nikmat
Ataukah hanya terlena dan hanyut dalam hayal
Larut dalam suka ria yang melalaikan kesyukuran kepada-Nya

Betapa banyak anugerah nikmat yang tak ternilai
Mengalir dari sumber-Nya tak pernah surut
Silih berganti berdatangan beriringan menyapa setiap hamba
Dalam setiap desahan nafas terkandung nikmat tak terputus
Dalam setiap dentangan detik nikmat merajut jalinan hidup
Tetapi banyak hamba yang lupa kepada Rabb Sang Pemberi nikmat
Kebanyakan manusia hanya sibuk menghayati berbagai kenikmatan
Lisannya bisu dari melantunkan tahmid
Hatinya kaku dari mengagungkan Sang Khalik yang tak henti mengalirkan nikmat
Anggauta tubuhnya tak pernah mengamalkan ketaatan
Rukuk dan bersujud menghambakan diri di depan Sang Pencipta

Sungguh kebanyakan hamba telah ingkar
Kufur akan segala nikmat yang tidak dapat dihitung
Melupakan asal datangnya nikmat
Mereguk dengan rakus segala kenikmatan
Tidak segan menanggung beban hutang
Merangkul kenikmatan tanpa memberikan balasan
Walaupun hanya sekedar rasa syukur kepada Yang Memberi
Sungguh kebanyakan hamba telah kufur akan nikmat Allah

Tepian Mahakam, 7 Agustus 2011
( by: musni Japrie )

Senin, 05 September 2011

SENJA KIAN MENDEKAT



Berdiri aku didepan cermin
Memandang dan merenungi diri
Ketampanan yang dibanggakan sirna dimakan zaman
Kini hanyalah sebatang tubuh yang merapuh
Mentari pagi yang ceria beringsut semakin meninggi
Rembang petang menjemput senja

Ketukan pintu penjemput pastilah datang
Menghantarkan ketempat penantian di liang lahat
Bergetar hati mengingatnya, menggigil ketakutan
Tubuh ini tidak mampu menanggung siksa
Yang meluluh lantakkan diri
Akibat acuh atas cinta dari-Nya

Tubuh yang rapuh dimakan umur
Bertabur diatasnya lumpur-lumpur kehidupan
Tubuh yang tidak pernah rukuk dan bersujud
Langkah kaki yang diayunkan ke kolam kenikmatan dunia
Lisan yang kaku dalam menyebut nama-Nya
Hati yang tidak pernah menyiratkan dzikir

Ketika senja semakin mendekat
Tergelitik untuk melantunkan taubat
Menetes penyesalan diri dari yang lampau
Ya Rabb, berikan kepada hamba lentera penerang
Ya Rabb, berikan magfirah-Mu
Ya Rabb, ketika pesuruh-Mu datang menjemput
Gerakkan hati dan lisanku mengingat-Mu
Mudahkan hamba menuju-Mu

Ujung Kota Tepian, 4 Syawal 1432 H
( by : musni japrie )

Sabtu, 03 September 2011

" BALASLAH CINTA-NYA "




Disingkapkan-Nya mentari pagi dari selaput malam
Merayap dengan cahaya lembut membangunkan segenap insan
Bergegas menangguk rezeki yang dihamparkan
Gambaran kecintaan Sang Maha Pemberi bagi segenap hamba-Nya
Meluaskan rezeki tanpa pilih kasih
Dengan takaran yang sesuai garis-Nya
Hamba yang bersyukur atau kufur memperoleh bagiannya
Karena kecintaan-Nya

Dipergantikan-Nya cahaya siang ajang menapaki hidup
Dengan senyum rembulan wadah bercengkrama
Diselimutkan-Nya malam dalam peluk kasih
Disisipi-Nya mimpi-mimpi indah dalam lelap
Bukti kecintaan-Nya pada hamba-hamba-Nya

Betapa sang khalik menebarkan cinta-Nya kesegenap hamba-Nya
Tak terhitung nikmat dituangkan dalam gelas-gelas kehidupan
Karena kecintaan dan kasih sayang-Nya
Hanya sedikit hamba yang membalas cinta-Nya
Sedikit hamba yang mensyukuri cinta-Nya

Betapa banyak yang tidak membalas cinta dan kasih sayang-Nya
Betapa banyak hamba lalai dalam membuktikan cinta kepada-Nya
Tidak sedikit hamba yang tidak pandai berterimakasih
Tidak sedikit hamba yang kufur nikmat dan cinta-Nya
Tidak sedikit hamba yang enggan mencintai-Nya

Hamba-hamba yang berleha-leha tanpa malu diatas bumi ciptaan-Nya
Berdendang riang dibawah payung langit buatan-Nya
Lupa yang ada pada dirinya sebagai nikmat-Nya
Melalaikan untuk sujud pada pemberi nikmat
Melarutkan diri dalam godaan hawa nafsu
Melabuhkan cinta kepada selain-Nya

Wahai hamba-hamba yang lalai
Bersegeralah berlari menuju-Nya
Balaslah cinta-Nya dengan mencintai-Nya
Mencintai-Nya dengan cinta diatas segala cinta
Rangkul dan jangan lepaskan cinta-Nya
Sebelum Dia palingkan Wajah-Nya

Tepian Mahakam, 3 Syawal 1432 H
( by : musni japrie )