Kamis, 24 November 2011

" SOMBONG KEPADA ALLAH "

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Muhammad Rasyid Ridha rahimahulah dalam tafsir Al Manar berkata : “ Perintah mentaati alah mengharuskan untuk menerapkan semua kandungan al-Qur’an dan perintah mengikuti Rasul melazimkan untuk mengikuti sunnahnya, karena beliau bertugas menjelaskan kepada manusia wahyu yang telah diturunkan kepadanya. Allah mengulangi lafaz ketaatan, untuk menguatkan kewajiban mentaati Rasul-Nya, sebab Islam sebagai agama tauhid yang murni tidak memberikan kepada selain Allah hak mengeluarkan perintah, larangan dan syari’at atau merubahnya. Boleh jadi ada yang merasa asing kenapa di dalam al-Qur’an terdapat ajakan untuk mentaati selain wahyu Allah. Namun sunatullah telah menetapkan bahwa Allah memiliki para utusan yang dijamin ma’shum dalam menyampaikan pesan agama, sehingga wajib ditaati dalam setiap ketetapan agama dan syariat ( Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya Aqidah Muslim ).

Allah berfirman dalam Ali’Imram ayat 31 :
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

KH. Qamaruddin Shaleh menyebutkan : Taat kepada Allah berarti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Sedangkan taat kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam berartgi mengikuti jejak langkahnya, berpedoman kepada petunjuknya,. Serta mencontoh setiap ucapan dan perbuatannya. Ketaatan kepada Allah tidak akan sempurna tanpa diiringi perasaan cinta kepada-Nya. Cinta kepada Allah berarti mengharapkan kedudukan yang dekatr dengan-Nya. Untuk mencapai kedudukan itu, seseorang harus berusaha menjalankan segala bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan tidak ada satupun jalan ketaatan kecuali telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam melalui sunah-sunahnya. Berkata Sahl bin ‘Abdillah radyalahu anhum “ Tanda cinta kepada Allah adalah cinta Al-Qur’an . Dan tanda cinta al-Qur’an adalah cinta kepada Nabi dan cinta kepada Nabi adalah cinta kepada sunnahnya. ( Ayat-ayat Larangan & Perintah dalam al-Qur’an Pedoman Menuju Akhlak Muslim )

Kedua firman Allah subhanahu wata’ala tersebut diatas secara tegas memerintahkan kepada umatnya untuk mentaati Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dengan melaksanakan segala bentuk perintah dan meninggalkan segala bentuk larangan. Akan tetapi ternyata kebanyakan manusia berbuat sombong kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara meninggalkan berbagai bentuk ketaatan, enggan melakukan apa-apa yang diperintahkan dan malah melibatkan diri dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang atau yang diharamkan.

Satu bentuk ketaatan yang diabaikan oleh kebanyakan umat muslim adalah shalat yang merupakan kewajiban sebagai wujud dari penghambaan diri manusia dihadapan Allah Subhanahu wata’ala dengan sujud. Berkaitan dengan shalat ini telah diperintahkan Allah sebagaimana Firman-Nya dalam surah Al-Baqarah 110 :

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللّهِ إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”

Keengganan mereka-mereka yang tidak mau melakukan shalat merupakan bentuk perwujudan tidak mau sujud menghambakan dan merendahkan diri dihadapan Allah Subhanahu wata’ala. Tidak mau merendahkan diri kepada Allah adalah suatu bentuk kesombongan.

Ancaman Allah bagi orang-orang yang sombong
Dalam al-Qur’an cukup banyak terdapat ayat-ayat yang menyebutkan tentang ancaman bagi orang-orang yang sombong, dimana berdasarkan ancaman yang akan dijatuhkan oleh Allah Subhanahu wata’ala tersebut menunjukkan bahwa sombong itu sebenarnya perbuatan yang diharamkan, sombong kepada sesama manusia lagi-lagi sombong kepada Allah.

Allah berfirman :

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِن يَرَوْاْ كُلَّ آيَةٍ لاَّ يُؤْمِنُواْ بِهَا وَإِن يَرَوْاْ سَبِيلَ الرُّشْدِ لاَ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلاً وَإِن يَرَوْاْ سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلاً ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَكَانُواْ عَنْهَا غَافِلِينَ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku) [mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. “ ( QS. Al-A’-raf; 146 )

Allah berfirman :
-
الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ وَعِندَ الَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka [1323]. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (QS. Al Mu’min : 35 )

Allah Berfirman
لاَ جَرَمَ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. An-Nahl : 23 )

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

-
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".(QS. Al-Mukmin : 60 )

Allah Ta’ala berfirman :
-
قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (QS. Az-Zumar : 72 )

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.(QS. Luqman : 18 )

Selain beberapa ayat al-Qur’an yang menyebutkan ancaman bagi orang-orang yang melakukan kesombongan sebagaimana yang dikutipkan diatas, maka beberapa hadits juga memperkuat tentang bagaimana kelak di akhirat kelak
Orang-orang yang berbuat kesombongan .

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

صحيح مسلم ٤٧٥٢: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَقَ عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْأَغَرِّ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالَا
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِزُّ إِزَارُهُ وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ
Shahih Muslim 4752: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yusuf Al Azdi; Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Hafsh bin Ghiyats; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy; Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Abu Muslim Al Aghar bahwasannya dia telah menceritakan kepadanya dari Abu Sa'id Al Khudri dan Abu Hurairah keduanya berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kemuliaan adalah sarung-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. Barang siapa menentang-Ku, maka Aku akan mengadzabnya."

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

صحيح مسلم ١٣٣: و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Shahih Muslim 133: Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abu Dawud telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Aban bin Taghlib dari Fudlail dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga orangyang di dalam hatinya terdapat seberat biji dari kesombongan."

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :
صحيح البخاري ٤٥٣٧: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ حَارِثَةَ بْنَ وَهْبٍ الْخُزَاعِيَّ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
Shahih Bukhari 4537: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ma'bad bin Khalid ia berkata, Aku mendengar Haritsah bin Wahb Al Khuza'i ia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni surga? Yaitu setiap orang lemah dan ditindas, yang sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni neraka? Yaitu setiap yang beringas membela kebatilan, kasar lagi sombong."

Bersabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam :

صحيح مسلم ١٥٦: و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ
Shahih Muslim 156: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abu Muawiyah dari al-A'masy dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, dan tidak mensucikan mereka." Abu Mu'awiyah menyebutkan, "Dan tidak melihat kepada mereka. Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih: yaitu orang tua yang pezina, pemimpin yang pendusta, dan orang miskin yang sombong."

Berbagai bentuk kesombongan kepada Allah

Allah subhanahu wata’ala berfirman :
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah ‘Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, (QS. Shaad : 75 -77 )

Berdasarkan ayat 75-77 surah Shaad tersebut diatas, disebutkan bahwa iblis dianggap sombong oleh Allah karena tidak mau mematuhi perintah-Nya sujud kepada Nabi Adam yang telah diciptakan Allah. Dan karena kesombongan iblis tersebut ia diusir dari surga tempat dimana sebelumnya mereka tinggal. Mengacu kepada 3 ayat tersebut diatas maka manusia yang membangkang terhadap perintah Allah dengan meninggalkan ketaatan yang diperintahkan termasuk orang-orang yang menyombongkan diri.

Banyak sekali bentuk-bentuk kedzaliman yang dilakukan manusia sebagai bentuk pengingkaran perintah-perintah serta pelanggaran larangan yang disyari’atkan dalam agama baik melalui al-Qur’an dan as-Sunnah antara lain :

1. Melakukan berbagai bentuk kesyirikan antara lain meyakini ada kekuatan dan penguasa selain Allah Yang Maha Esa yang mampu memberikan pertolongan dan perlindungan serta dapat menimbulkan kemudharatan, sehingga perlu diberikan sesembahan berupa sesajen dan melakukan berbagai bentuk ritual sebagai pemujaan dan penyembahan kepada selain Allah. Dengan keyakinan seperti ini mereka telah menafikan/meniadakan kekuasaan Allah sebagai Maha pencipta, Maha pemberi perlindungan,Maha pemberi pertolongan. Dengan adanya keyakinan bahwa ada kekuatan dan penguasa lain selain Allah mereka telah merendahkan kedudukan Allah serta meremehkan kekuasaan dan kemampuan Allah. Memandang rendah dan meremehkan kekuasaan serta kemampuan Allah sesungguhnya merupakan sebuah kesombongan.Termasuk perbuatan syirik yang sering dilakukan banyak orang adalah menyembelih hewan yang diperuntukan kepada selain Allah, seperti menanam kepala kerbau pada proyek-proyek pembuatan jalan, jembatan, pelabuhan, pembukaan tambang dll sebagainya. Perbuatan lain yang dikatagorikan sebagai syirik adalah mendatangai dukun dan paranormal serta tukang sihir, mempercayai ramalan-ramalan,mempercayai dan menggunakan jimat-jimat, bertahayur kepada binatang, mendatangi kubur-kubur keramat untuk meminta pertolongan, bertawassul, memuji dan mengagungkan kubur-kubur para wali-wali, orang-orang shalih.Perbuatan syirik yang dilakukan oleh kebanyakan orang-orang adalah sebagai perbuatan yang nyata-nyata mengingkari keberadaan dan ke Maha Esaan Allah, karenanya ia termasuk sebagai kesombongan .

2.Meninggalkan kewajiban yang diperintahkan seperti tidak mau melakukan ibadah untuk bersujud dalam shalat fardhu lima waktu, shalat jum’at, kewajiban puasa di bulan ramadhan, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji . Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam :

صحيح البخاري ٧: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Shahih Bukhari 7: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan".

Selain itu banyak lagi perintah- perintah lain seperti menutup aurat bagi wanita, berbuat baik kepada kedua orang tua dan lain-lainnya. Diingkarinya oleh manusia berbagai kewajiban yang diperintahkan merupakan ketidak taatan dan ketidak patuhan kepada khaliknya , ini sesungguhnya termasuk dalam kesombongan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

3.Melanggar larangan-larangan Allah subhanahu wata’ala sebagaimana yang digariskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga terjadilah perbuatan maksiat seperti berzinah, mencuri, merampok, membunuh,menipu , makan riba, bersumpah palsu, bersumpah dengan selain Allah, berbuat dzalim kepada sesama manusia, durhaka kepada kedua orang tua, memakan makanan yang haram, meminum minuman keras dan narkoba, larangan bertasyabbuh , larangan mengenakan kaun sutera dan perhiasan emas bagi kaum lelaki dan pelanggaran larangan lainnya yang dihukumi sebagai perbuatan haram. Pelanggaran larangan yang jelas-jelas keharamannya tiada lain adalah bentuk kesombongan manusia kepada Allah.

4. Menambah-nambah atau mengada-adakan hal-hal yang baru dalam urusan agama yang popular dengan istilah bid’ah adalah sebuah perbuatan membuat syari’at yang b aru dalam agama, sedangkan syari’at telah dipatenkan dengan terputusnya wahyu dari Allah sejak wafatnya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Dan agama islam ini telah sempurna sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Maiidah ayat 3 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari iniorang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Meskipun agama Islam ini dengan seluruh syari’atnya sudah disebutkan sempurna berdasarkan ayat diatas, tetapi masih saja diantara kebanyakan orang yang menambah atau membuat hal-hal baru dalam urusan agama yang menyamai syari’at, dan ini dilakukan mereka karena menganggap bahwa syari’at yang ada belum lengkap dan masih kurang serta belum sempurna. Apa yang dilakukan oleh sementara orang-orang tersebut berarti menyamakan kedudukannya dengan Allah dan Rasul dengan membuat syari’at tambahan, tindakan seperti ini tiada lain sebuah kesyirikan. Disamping itu juga telah meremehkan Rasulullah, apakah ini bukan tindakan sebuah kesombongan. Begitu juga apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam mengamalkan hal-hal yang bid’ah dalam kesehariannya sama saja dengan menganggap apa yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam masih kurang, perbuatan seperti ini adalah perbuatan sombong karena mengganggap Rasulullah kurang sempurna dalam menyampaikan risalahnya.

Berkenaan dengan bid’ah ini Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda sebagai mana riwayat berikut ini :

سنن النسائي ١٥٦٠: أَخْبَرَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ ثُمَّ يَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ ثُمَّ قَالَ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ وَأَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ
Sunan Nasa'i 1560: Telah mengabarkan kepada kami 'Utbah bin 'Abdullah dia berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnul Mubarak dari Sufyan dari Ja'far bin Muhammad dari bapaknya dari Jabir bin 'Abdullah dia berkata; "Apabila Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam berkhutbah, maka beliau memuji dan menyanjung Allah dengan hal-hal yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda: 'Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka'. Kemudian beliau bersabda lagi, 'Ketika aku diutus, jarak antara aku dan hari Kiamat seperti jarak dua jari ini'. Bila beliau menyebutkan hari Kiamat maka kedua pipinya memerah, suaranya meninggi, dan amarahnya bertambah, seolah-olah beliau memperingatkan pasukan. Beliau bersabda: 'Hati-hati pada pagi kalian dan sorenya'. Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu buat keluarganya dan barangsiapa meninggalkan utang atau sesuatu yang hilang maka itu tanggunganku. Aku adalah wali bagi orang-orang yang beriman '."

K h a t i m a h
Kesombongan sebagai penyakit hati akan melahirkan sikaf untuk tidak mau tunduk dan patuh terhadap Allah Subhanahu wata’ala sehingga terwujudlah pembangkangan dengan meninggalkan kewajibannya sebagai hamba Allah dan memilih untuk mengerjakan perbuatan yang dilarang atau diharamkan sehingga lahirlah berbagai kemaksiatan.
Mengingat kesombongan merupakan perbuatan yang terlarang, lebih-lebih sombong kepada Allah , maka bagi pelakunya akan mendapatkan sanksi hukuman sebagaimana iblis karena kesombongan membangkang perintah Allah untuk sujud kepada nabi Adam ‘alaihisalam dijatuhi hukuman sanksi terusir dari surga. Bagi pelaku kesombongan sebagaimana ancaman yang disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an diakhirat kelak akan mendapatkan sanksi siksa neraka.
Tidak ada cara lain untuk menghindarkan perbuatan sombong kepada Allah ,kecuali melakukan ketaatan, kepatuhan dan ketundukan dengan berbagai perbuatan yang disyari’atkan yang diiringi dengan meninggalkan dan menjauhi berbagai perbuatan yang dilarang atau diharamkan. ( W a l a h u ‘a l a m )

Sumber bacaan :
1.Al-Qur’an dan Terjemahan ( Software Program Salafi DB )
2.Eksiklopedi Hadits Kitab 9 Imam ( Sofware Program Lidwa Pusaka )
3.Ayat-ayat Larangan dan Perintah dalam Al-Qur’an , KH. Qamaruddin Shaleh dkk
4.Minhajul Qashidin ( Terjemahan ), Ibnu Qudamah
5.Tanbihul Ghafilin ( Terjemahan ) Imam Muhyiddin an-Nahhas
6.Manajemen Qalbu Ulama Salaf( Terjemahan ), Syaikh DR. Ahmad farid
7.Akidah Muslim, Zainal Abidin bin Syamsudin

Diselesaikan ba’da dhuhur, Kamis 28 Dzulhijjah 1432 H/24 Nopember 2011
(Oleh Musni Japrie)

" SOMBONG KEPADA ALLAH "

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Muhammad Rasyid Ridha rahimahulah dalam tafsir Al Manar berkata : “ Perintah mentaati alah mengharuskan untuk menerapkan semua kandungan al-Qur’an dan perintah mengikuti Rasul melazimkan untuk mengikuti sunnahnya, karena beliau bertugas menjelaskan kepada manusia wahyu yang telah diturunkan kepadanya. Allah mengulangi lafaz ketaatan, untuk menguatkan kewajiban mentaati Rasul-Nya, sebab Islam sebagai agama tauhid yang murni tidak memberikan kepada selain Allah hak mengeluarkan perintah, larangan dan syari’at atau merubahnya. Boleh jadi ada yang merasa asing kenapa di dalam al-Qur’an terdapat ajakan untuk mentaati selain wahyu Allah. Namun sunatullah telah menetapkan bahwa Allah memiliki para utusan yang dijamin ma’shum dalam menyampaikan pesan agama, sehingga wajib ditaati dalam setiap ketetapan agama dan syariat ( Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya Aqidah Muslim ).

Allah berfirman dalam Ali’Imram ayat 31 :
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

KH. Qamaruddin Shaleh menyebutkan : Taat kepada Allah berarti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Sedangkan taat kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam berartgi mengikuti jejak langkahnya, berpedoman kepada petunjuknya,. Serta mencontoh setiap ucapan dan perbuatannya. Ketaatan kepada Allah tidak akan sempurna tanpa diiringi perasaan cinta kepada-Nya. Cinta kepada Allah berarti mengharapkan kedudukan yang dekatr dengan-Nya. Untuk mencapai kedudukan itu, seseorang harus berusaha menjalankan segala bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan tidak ada satupun jalan ketaatan kecuali telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam melalui sunah-sunahnya. Berkata Sahl bin ‘Abdillah radyalahu anhum “ Tanda cinta kepada Allah adalah cinta Al-Qur’an . Dan tanda cinta al-Qur’an adalah cinta kepada Nabi dan cinta kepada Nabi adalah cinta kepada sunnahnya. ( Ayat-ayat Larangan & Perintah dalam al-Qur’an Pedoman Menuju Akhlak Muslim )

Kedua firman Allah subhanahu wata’ala tersebut diatas secara tegas memerintahkan kepada umatnya untuk mentaati Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dengan melaksanakan segala bentuk perintah dan meninggalkan segala bentuk larangan. Akan tetapi ternyata kebanyakan manusia berbuat sombong kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara meninggalkan berbagai bentuk ketaatan, enggan melakukan apa-apa yang diperintahkan dan malah melibatkan diri dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang atau yang diharamkan.

Satu bentuk ketaatan yang diabaikan oleh kebanyakan umat muslim adalah shalat yang merupakan kewajiban sebagai wujud dari penghambaan diri manusia dihadapan Allah Subhanahu wata’ala dengan sujud. Berkaitan dengan shalat ini telah diperintahkan Allah sebagaimana Firman-Nya dalam surah Al-Baqarah 110 :

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللّهِ إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”

Keengganan mereka-mereka yang tidak mau melakukan shalat merupakan bentuk perwujudan tidak mau sujud menghambakan dan merendahkan diri dihadapan Allah Subhanahu wata’ala. Tidak mau merendahkan diri kepada Allah adalah suatu bentuk kesombongan.

Ancaman Allah bagi orang-orang yang sombong
Dalam al-Qur’an cukup banyak terdapat ayat-ayat yang menyebutkan tentang ancaman bagi orang-orang yang sombong, dimana berdasarkan ancaman yang akan dijatuhkan oleh Allah Subhanahu wata’ala tersebut menunjukkan bahwa sombong itu sebenarnya perbuatan yang diharamkan, sombong kepada sesama manusia lagi-lagi sombong kepada Allah.

Allah berfirman :

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِن يَرَوْاْ كُلَّ آيَةٍ لاَّ يُؤْمِنُواْ بِهَا وَإِن يَرَوْاْ سَبِيلَ الرُّشْدِ لاَ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلاً وَإِن يَرَوْاْ سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلاً ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَكَانُواْ عَنْهَا غَافِلِينَ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku) [mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. “ ( QS. Al-A’-raf; 146 )

Allah berfirman :
-
الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ وَعِندَ الَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka [1323]. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (QS. Al Mu’min : 35 )

Allah Berfirman
لاَ جَرَمَ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. An-Nahl : 23 )

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

-
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".(QS. Al-Mukmin : 60 )

Allah Ta’ala berfirman :
-
قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (QS. Az-Zumar : 72 )

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.(QS. Luqman : 18 )

Selain beberapa ayat al-Qur’an yang menyebutkan ancaman bagi orang-orang yang melakukan kesombongan sebagaimana yang dikutipkan diatas, maka beberapa hadits juga memperkuat tentang bagaimana kelak di akhirat kelak
Orang-orang yang berbuat kesombongan .

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

صحيح مسلم ٤٧٥٢: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَقَ عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْأَغَرِّ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالَا
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِزُّ إِزَارُهُ وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ
Shahih Muslim 4752: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yusuf Al Azdi; Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Hafsh bin Ghiyats; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy; Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Abu Muslim Al Aghar bahwasannya dia telah menceritakan kepadanya dari Abu Sa'id Al Khudri dan Abu Hurairah keduanya berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kemuliaan adalah sarung-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. Barang siapa menentang-Ku, maka Aku akan mengadzabnya."

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

صحيح مسلم ١٣٣: و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Shahih Muslim 133: Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abu Dawud telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Aban bin Taghlib dari Fudlail dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga orangyang di dalam hatinya terdapat seberat biji dari kesombongan."

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :
صحيح البخاري ٤٥٣٧: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ حَارِثَةَ بْنَ وَهْبٍ الْخُزَاعِيَّ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
Shahih Bukhari 4537: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ma'bad bin Khalid ia berkata, Aku mendengar Haritsah bin Wahb Al Khuza'i ia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni surga? Yaitu setiap orang lemah dan ditindas, yang sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni neraka? Yaitu setiap yang beringas membela kebatilan, kasar lagi sombong."

Bersabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam :

صحيح مسلم ١٥٦: و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ
Shahih Muslim 156: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abu Muawiyah dari al-A'masy dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, dan tidak mensucikan mereka." Abu Mu'awiyah menyebutkan, "Dan tidak melihat kepada mereka. Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih: yaitu orang tua yang pezina, pemimpin yang pendusta, dan orang miskin yang sombong."

Berbagai bentuk kesombongan kepada Allah

Allah subhanahu wata’ala berfirman :
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah ‘Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, (QS. Shaad : 75 -77 )

Berdasarkan ayat 75-77 surah Shaad tersebut diatas, disebutkan bahwa iblis dianggap sombong oleh Allah karena tidak mau mematuhi perintah-Nya sujud kepada Nabi Adam yang telah diciptakan Allah. Dan karena kesombongan iblis tersebut ia diusir dari surga tempat dimana sebelumnya mereka tinggal. Mengacu kepada 3 ayat tersebut diatas maka manusia yang membangkang terhadap perintah Allah dengan meninggalkan ketaatan yang diperintahkan termasuk orang-orang yang menyombongkan diri.

Banyak sekali bentuk-bentuk kedzaliman yang dilakukan manusia sebagai bentuk pengingkaran perintah-perintah serta pelanggaran larangan yang disyari’atkan dalam agama baik melalui al-Qur’an dan as-Sunnah antara lain :

1. Melakukan berbagai bentuk kesyirikan antara lain meyakini ada kekuatan dan penguasa selain Allah Yang Maha Esa yang mampu memberikan pertolongan dan perlindungan serta dapat menimbulkan kemudharatan, sehingga perlu diberikan sesembahan berupa sesajen dan melakukan berbagai bentuk ritual sebagai pemujaan dan penyembahan kepada selain Allah. Dengan keyakinan seperti ini mereka telah menafikan/meniadakan kekuasaan Allah sebagai Maha pencipta, Maha pemberi perlindungan,Maha pemberi pertolongan. Dengan adanya keyakinan bahwa ada kekuatan dan penguasa lain selain Allah mereka telah merendahkan kedudukan Allah serta meremehkan kekuasaan dan kemampuan Allah. Memandang rendah dan meremehkan kekuasaan serta kemampuan Allah sesungguhnya merupakan sebuah kesombongan.Termasuk perbuatan syirik yang sering dilakukan banyak orang adalah menyembelih hewan yang diperuntukan kepada selain Allah, seperti menanam kepala kerbau pada proyek-proyek pembuatan jalan, jembatan, pelabuhan, pembukaan tambang dll sebagainya. Perbuatan lain yang dikatagorikan sebagai syirik adalah mendatangai dukun dan paranormal serta tukang sihir, mempercayai ramalan-ramalan,mempercayai dan menggunakan jimat-jimat, bertahayur kepada binatang, mendatangi kubur-kubur keramat untuk meminta pertolongan, bertawassul, memuji dan mengagungkan kubur-kubur para wali-wali, orang-orang shalih.Perbuatan syirik yang dilakukan oleh kebanyakan orang-orang adalah sebagai perbuatan yang nyata-nyata mengingkari keberadaan dan ke Maha Esaan Allah, karenanya ia termasuk sebagai kesombongan .

2.Meninggalkan kewajiban yang diperintahkan seperti tidak mau melakukan ibadah untuk bersujud dalam shalat fardhu lima waktu, shalat jum’at, kewajiban puasa di bulan ramadhan, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji . Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam :

صحيح البخاري ٧: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Shahih Bukhari 7: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan".

Selain itu banyak lagi perintah- perintah lain seperti menutup aurat bagi wanita, berbuat baik kepada kedua orang tua dan lain-lainnya. Diingkarinya oleh manusia berbagai kewajiban yang diperintahkan merupakan ketidak taatan dan ketidak patuhan kepada khaliknya , ini sesungguhnya termasuk dalam kesombongan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

3.Melanggar larangan-larangan Allah subhanahu wata’ala sebagaimana yang digariskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga terjadilah perbuatan maksiat seperti berzinah, mencuri, merampok, membunuh,menipu , makan riba, bersumpah palsu, bersumpah dengan selain Allah, berbuat dzalim kepada sesama manusia, durhaka kepada kedua orang tua, memakan makanan yang haram, meminum minuman keras dan narkoba, larangan bertasyabbuh , larangan mengenakan kaun sutera dan perhiasan emas bagi kaum lelaki dan pelanggaran larangan lainnya yang dihukumi sebagai perbuatan haram. Pelanggaran larangan yang jelas-jelas keharamannya tiada lain adalah bentuk kesombongan manusia kepada Allah.

4. Menambah-nambah atau mengada-adakan hal-hal yang baru dalam urusan agama yang popular dengan istilah bid’ah adalah sebuah perbuatan membuat syari’at yang b aru dalam agama, sedangkan syari’at telah dipatenkan dengan terputusnya wahyu dari Allah sejak wafatnya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Dan agama islam ini telah sempurna sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Maiidah ayat 3 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari iniorang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Meskipun agama Islam ini dengan seluruh syari’atnya sudah disebutkan sempurna berdasarkan ayat diatas, tetapi masih saja diantara kebanyakan orang yang menambah atau membuat hal-hal baru dalam urusan agama yang menyamai syari’at, dan ini dilakukan mereka karena menganggap bahwa syari’at yang ada belum lengkap dan masih kurang serta belum sempurna. Apa yang dilakukan oleh sementara orang-orang tersebut berarti menyamakan kedudukannya dengan Allah dan Rasul dengan membuat syari’at tambahan, tindakan seperti ini tiada lain sebuah kesyirikan. Disamping itu juga telah meremehkan Rasulullah, apakah ini bukan tindakan sebuah kesombongan. Begitu juga apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam mengamalkan hal-hal yang bid’ah dalam kesehariannya sama saja dengan menganggap apa yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam masih kurang, perbuatan seperti ini adalah perbuatan sombong karena mengganggap Rasulullah kurang sempurna dalam menyampaikan risalahnya.

Berkenaan dengan bid’ah ini Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda sebagai mana riwayat berikut ini :

سنن النسائي ١٥٦٠: أَخْبَرَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ ثُمَّ يَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ ثُمَّ قَالَ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ وَأَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ
Sunan Nasa'i 1560: Telah mengabarkan kepada kami 'Utbah bin 'Abdullah dia berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnul Mubarak dari Sufyan dari Ja'far bin Muhammad dari bapaknya dari Jabir bin 'Abdullah dia berkata; "Apabila Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam berkhutbah, maka beliau memuji dan menyanjung Allah dengan hal-hal yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda: 'Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka'. Kemudian beliau bersabda lagi, 'Ketika aku diutus, jarak antara aku dan hari Kiamat seperti jarak dua jari ini'. Bila beliau menyebutkan hari Kiamat maka kedua pipinya memerah, suaranya meninggi, dan amarahnya bertambah, seolah-olah beliau memperingatkan pasukan. Beliau bersabda: 'Hati-hati pada pagi kalian dan sorenya'. Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu buat keluarganya dan barangsiapa meninggalkan utang atau sesuatu yang hilang maka itu tanggunganku. Aku adalah wali bagi orang-orang yang beriman '."

K h a t i m a h
Kesombongan sebagai penyakit hati akan melahirkan sikaf untuk tidak mau tunduk dan patuh terhadap Allah Subhanahu wata’ala sehingga terwujudlah pembangkangan dengan meninggalkan kewajibannya sebagai hamba Allah dan memilih untuk mengerjakan perbuatan yang dilarang atau diharamkan sehingga lahirlah berbagai kemaksiatan.
Mengingat kesombongan merupakan perbuatan yang terlarang, lebih-lebih sombong kepada Allah , maka bagi pelakunya akan mendapatkan sanksi hukuman sebagaimana iblis karena kesombongan membangkang perintah Allah untuk sujud kepada nabi Adam ‘alaihisalam dijatuhi hukuman sanksi terusir dari surga. Bagi pelaku kesombongan sebagaimana ancaman yang disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an diakhirat kelak akan mendapatkan sanksi siksa neraka.
Tidak ada cara lain untuk menghindarkan perbuatan sombong kepada Allah ,kecuali melakukan ketaatan, kepatuhan dan ketundukan dengan berbagai perbuatan yang disyari’atkan yang diiringi dengan meninggalkan dan menjauhi berbagai perbuatan yang dilarang atau diharamkan. ( W a l a h u ‘a l a m )

Sumber bacaan :
1.Al-Qur’an dan Terjemahan ( Software Program Salafi DB )
2.Eksiklopedi Hadits Kitab 9 Imam ( Sofware Program Lidwa Pusaka )
3.Ayat-ayat Larangan dan Perintah dalam Al-Qur’an , KH. Qamaruddin Shaleh dkk
4.Minhajul Qashidin ( Terjemahan ), Ibnu Qudamah
5.Tanbihul Ghafilin ( Terjemahan ) Imam Muhyiddin an-Nahhas
6.Manajemen Qalbu Ulama Salaf( Terjemahan ), Syaikh DR. Ahmad farid
7.Akidah Muslim, Zainal Abidin bin Syamsudin

Diselesaikan ba’da dhuhur, Kamis 28 Dzulhijjah 1432 H/24 Nopember 2011
(Oleh Musni Japrie)

Senin, 21 November 2011

TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM BUKANLAH HARI BESAR


Perputaran waktu dari tahun ketahun berikutnya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala. Banyak sekali kejadian dan kenangan selama perputaran waktiu tersebut yang semestinya membuahkan pelajaran berharga bagi kita semua. Detik-detik pergantian akhir tahun adalah saat –saat yang sangat bersejarah dalam lembaran umat manusia , sehingga menjadikan sebagian orang menyelenggaraan berbagai kegiatan yang terkait dengan pelepasan dan penyambutan tahun baru. Begitu juga sebagian masyarakat muslim tidak mau ketinggalam dalam menyambut tahun baru 1 Muharram.

Sebenarnya ebelum era tahun Sembilan puluhan masyarakat muslim di Indonesia belumlah banyak melakukan kegiatan penyambutan tahun baru Islam yang ditandai dengan dimasukinya tanggal 1 Muharram, namun setelah era tersebut dengan didorong dan dipelopori oleh beberapa orang mulailah ada gerakan untuk memasyarakatkan penyambutan dan peringatan tahun baru islam tgl 1 Muharram. Akhirnya setelah beberapa tahun kemudian maka berkembanglah secara signifikan setiap dimasukinya tahun baru islam masyarakat islam di Indonesia menyambut kedatangan tanggal 1 Muharram yang dimulai saat terbenamnya matahari tanggal 30 Dzulhijjah. Berbagai kegiatan dilakukan antara lain dipasangnya spandukp-spanduk menyambut tahun baru,diadakannya pawai dan karnaval, perlombaan-perlombaan, pengajian khusus dan termasuk berbagai ibadah lainnya yang dilakukan dimasjid-masjid dan surau dengan pembacaan doa akhir tahun serta doa awal tahun yang sebelumnya tidak ketinggalan membaca surah yasin secara berjamaah.

Karena dimana-nama diselenggarakan aktifitas penyambutan dan perayaan tahun baru islam maka pada umumnya masyarakat muslim di negeri ini menganggap bahwa tanggal 1 Muharram sebagai sebagai awal dimasukinya tahun baru islam merupakan hari besar islam yang patut disambut secara meriah dan dirayakan layaknya hari besar. Sehingga patut disambut dengan rasa suka cita dan riang gembira.

Berkaitan dengan itu maka dengan akan dimasukinya tahun baru islam yang diawali dengan dimasukinya tanggal 1 muharram maka agar masyarakat tidak keliru dan salah kaprah maka dipandang perlu untuk kembali mengingatkan kepada semua kalangan bagaimana menyikapinya dipandang dari sudut pandang syari’at islam.

Tahun Baru 1 Muharram Bukan Hari Besar Islam

Sudah menjadi budaya dan tradisi di kalangan masyarakat Islam di Indonesia untuk menyambut dan memperingati apa yang disebut sebagai hari besar Islam, sehingga dalam penanggalan/almanak Indonesia pada setiap tanggal terjadinya sesuatu peristiwa yang diyakini berkaitan dengan sejarah islam dinyatakan libur kerja oleh Pemerintah, seperti hari kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam, Isra mi’raj, Nuzul Qur’an, tahun baru Hijrihya dan lain-lainnya. Sehingga sebagian besar kalangan masyarakat islam menganggap dan menjadikan tahun baru Islam 1 Muharram sebagai hari besar yang patut untuk disambut dan dirayakan. Meskipun sebenarnya hari-hari yang disebutkan sebagai hari besar tersebut tidak berdasarkan syari’at Islam.

Sesungguhnya tahun baru hijriyah meskipun secara maknanya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun baru agama lain, seperti tahun baru masehi, tahun baru agama hindu, tahun baru waisak untuk agama budha, dan tahun baru Cina/Imlek, namun secara subtansinya sangatlah berbeda, karena tahun baru bagi agama-agama lainnya berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah keagamaan. Sedangkan untuk tahun baru Islam 1 Muharram samasekali didalamnya tidak ada hal-hal khusus yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah.

Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwiyah menyebutkan bahwa tidak diragukan lagi bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah mensyariatkan dua hari raya bagi kaum muslimin, yang pada keduanya hari tersebut mereka berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha sebagai pengganti hari raya –hari raya jahiliyah. Disamping itu Allah pun mensyari’atkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah seperti hari Jum’at, hari Arafah dan hari-hari Tasyriq. Namun Allah Subhanahu Wata’ala tidak mensyariatkan perayaan –perayaan hari kelahiran, tidak untuk hari kelahiran Nabi dan tidak pula untuk perayaan lainnya.

Mengingat syari’at Islam telah menetapkan hari-hari besar tahunannya seperti 2 hari raya, dan hari raya mingguannya di hari jum’at maka tidak sepatutnya kita menetapkan sendiri bahwa tahun baru 1 Muharram sebagai dimulainya kalender hijriyah sebagai hari besar, yang kemudian di dalamnya dilakukan berbagai kegiatan ibadah serta kegiatan penyambutan yang meriah, sebagaimana kaum agama lain menyambut tahun baru mereka.

Tahun baru Tandingan?

Akhuna Syarif Mustaqim Abu Sulaiman dalam SALAFIYUNPAD™ , menyebutkan bahwa pada jaman sekarang banyak orang-orang mulai menambah-nambah hari raya yang seharusnya bukan hari raya. Contoh mudahnya, bila bulan Muharrom tiba maka ada sebagian umat Islam yang merayakan tahun baru Islam. Alasan mereka, kalau dalam penanggalan masehi itu ada istilah tahun baru tempat orang-orang bersuka cita dan gembira, bahkan malah dipenuhi dengan banyak acara kemaksiatan, lalu mengapa kita tidak membuat tandingannya? Kita buat saja tahun baru Islam berdasarkan penganggalan hijriyah, kemudian diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan terkait dengan hari itu?

Nampaknya niat tersebut sekilas terlihat baik. Namun perlu untuk diketahui, tidak setiap niat baik itu akan mendatangkan kebaikan. Seluruh ibadah yang kita laksanakan harus ada contoh dan teladan dari Nabi kita. Hal ini karena beliaulah yang Allah utus untuk menjelaskan tatacara ibadah yang benar dan diterima. Konsekuensinya, tidak ada kreatifitas dalam bentuk ibadah. Jika seseorang berinisiatif membuat cara sendiri maka dia akan terjatuh dalam kebid’ahan. Hukum perkara bid’ah adalah dosa. Maka kewajiban bagi setiap muslimn untuk beragama berdasarkan dalil-dalil yang jelas dan shahih, hal ini sebagai dasar pelaksanaan ibadah dalam Islam

Begitu pula Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, ST dalam Artikel http://rumaysho.com menyebutkan bahwa dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?

Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”

Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.

Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah

Penyambutan Dan Perayaan Tahun baru Hijriyah 1 Muharram Termasuk Perkara Baru Dalam Agama

Mengingat bahwa dimulainya penanggalan dalam Islam mengacu kepada dilakukannya hijrah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan sangat terkait dengan syari’at maka penyambutan dan merayakan tahun baru hijriyah 1 Muharam yang tidak disyari’atkan adalah merupakan perbuatan mengada-ada yang bertentangan dengan sunah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Dr.Said bin Ali bin Wahf al-Qahtahni menyebutkan bahwa syarat-syarat diterimanya amalan yang bertujuan untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah, hanya dapat diterima bila :
1.Mengikhlaskan amalan untuk Allah semata yang tidak ada sekutu baginya.
2. Mencontoh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dalam beramal.
Orang yang mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah dalam melakukan ibadah itu ia mencontoh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, maka amalannya akan diterima. Sementara orang yang kehilangan keikhlasan dan kehilangan itti’ba kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, atau kehilangan sakah satu dari keduanya, maka amalannya itu akan tertolak.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surah al-Maidah ayat 3 yang artinya :

-
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini . orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dari ayat tersebut diatas maka para sahabat,tabi’in,tabi’ut tabi’in dan seluruh ulama salaf memaknai dan menafsirkan bahwa agama islam sejak turunnya ayat tersebut telah disempurnakan oleh Allah Subhana wa ta’ala. Al-Qur’an sebagai kumpulan kalamullah telah secara rinci dan lengkap untuk dijadikan panduan dasar umat islam dalam menjalani hidupnya. Tidak ada satupun yang tertinggal.
Ayat tersebut diperkuat lagi dengan hadits Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam yang artinya :
Dari Muththalib bin Hanthab : Sesungguhnya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam telah bersabda : “ Tidak aku tinggalkan sesuatupun/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya telah aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinmggalkan kepada kamu sesuatupun/sedikit pun juga apa-apa yang Allah telah larang/cegah kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu dari mengerjakannya. “( Hadits ini di keluarkan oleh asy-Syafi’iy di kitabnya ar Risalah dan B ahaiqiy dikitab Sunannya
.
Dari riwayat yang shahih bahwa seorang yahudi pernah berkata kepada salah seorang sahabat Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam, bahwa agama islam itu sangat lengkap sampai-sampai cara beristinja’ pun diajarkan.
Dari riwayat tersebut sangat jelas tersirat makna bahwa hal yang kecil/sepele saja seperti beristinja’ setelah membuang hajat besar diajarkan apalagi hal-hal yang prinsif seperti yang berkaitan dengan aqidah dan ibadah tentu lebih jelas dan lengkap lagi.
Dari ayat al-Mai’dah dan hadits tersebut diatas secara terang dan bukti memberikan penjelasan kepada kita,bahwa agama kita ini( al-Islam) telah sempurna.Sehingga dia tidak memerlukan segala bentuk tambahan dan pengurangan sedikitpun juga.
Sebagai umat islam yang mengakui bertauhid kepada Allah dan mengakui Muhammad Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam sebagai nabi dan rasul panutan kita, maka kewajiban bagi kita untuk ta’at dan mencintai beliau.
Tidak ada cara dan alternatif lain yang wajib ditempuh setiap insan muslim selain mematuhi apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam, sebagaimana yang sering disebut-sebutkan yaitu as-sunnah Rasul.
Allah berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah,jika kalian benar-benar mencintai Allah,maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagiMaha Penyayang “ ( QS.Ali Imran : 31 )

Diantara larangan-larangan yang wajib dipatuhi oleh seorang muslim adalah larangan berbuat bid’ah, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam ::

صحيح مسلم ٣٢٤٢: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَوْنٍ الْهِلَالِيُّ جَمِيعًا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Shahih Muslim 3242: Telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Muhammad bin Shabah dan Abdullah bin 'Aun Al Hilali semuanya dari Ibrahim bin Sa'd. Ibnu Shabah berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf telah menceritakan kepada kami ayahku dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengada-ngada sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak perintahkan, maka hal itu tertolak."

Dihadits lain disebutkan :

صحيح البخاري ٢٤٩٩: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ وَعَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَبِي عَوْنٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ

Shahih Bukhari 2499: Telah menceritakan kepada kami Ya'qub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak". Diriwayatkan pula oleh 'Abdullah bin Ja'far Al Makhramiy dan 'Abdul Wahid bin Abu 'Aun dari Sa'ad bin Ibrahim.

Bid’ah adalah hal yang baru dalam agama setelah agama itu sempurna . Atau sesuatu yang dibuat-buat setelah wafatnya Nabi shallalahu’alahi wa sallam berupa keinginan nafsu dan amal perbuatan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengungkapkan bahwa :

Bid’ah dalam islam, adalah : segala yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya,yakni yang tidak diperintahkan baik dalam wujud perintah wajib atau berbentuk anjuran
Sedangkan Imam Asy-Syathibi rahimahullah menyebutkan bahwa :”

Bid'ah itu adalah satu cara dalam agama ini yang dibuat-buat, bentuk menyerupai ajrahn syari’at yang ada, tujuannya dilaksanakannya adalah untuk b erlenih-lebihan dalam ibadah kepada Allah “.
Rasulullah shallalahu’alahi wa sallam bersabda :
Amma ba’du ! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah ( al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallalahu’alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang baru (muhdats) dn setiap muhdats adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Syarat diterima amalan ibadah apapun itu ada dua, yaitu ikhlas dan ittiba’ (sesuai tuntunan Rasulullahsholallahu‘alaihi wasssalam). Tahun baru sekalipun dengan penanggalan hijriyah adalah sesuatu yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabat beliau. Jika perayaan tahun baru Islam adalah boleh mengapa tidak ada para sahabat yang melakukannya? Padahal tidak ada kebaikan yang ditinggalkan begitu saja dan tidak dilaksanakan oleh para sahabat. Andaikan ada satu kebaikan walaupun itu sebesar biji sawi, niscaya mereka akan mendahului kita melaksanakannya. Sedangkan hukum perkara bid’ah adalah terlarang dan tertolak, kita tidak diperbolehkan melakukan perkara bid’ah dalam hal agama. Hal ini karena Islam adalah agama yang sempurna, tidak perlu penambahan dan pengurangan

Penyambutan Tahun Baru Islam 1 Muharram Menyerupai Kaum Non Muslim

Sebagaimana dikemukan diatas bahwa kaum non muslim sesuai dengan agamanya memiliki tahun kalender masing-masing, seperti kaum nasrani memiliki tahun masehi, budha memiliki waisak, konghuchu memiliki tahun imlek begitu juga hindu. Setiap datang tahun baru bagi masing-masing agama tersebut oleh pemeluknya disambut dan dimeriahkan yang sekaligus diadakan peribadatan. Kemudian kaum muslimin ikut menyerupai dan meniru-niru mereka-mereka kaum non muslim dalam menyambut tahun baru hijriyah 1 Muharram dengan berbagai kegiatan dan ibadah, padahal Islam tidak mensyari’atkannya. Menyerupai atau meniru-niru kaum non muslim oleh kaum muslimin disebut tasyabbuh, dan tasyabbuh itu sendiri merupakan perbuatan yang dilarang dalam syari’at Islam..

Sikap meniru-niru atau mencontoh atau menyerupai kepada kalangan agama lain oleh orang-orang islam , jauh-jauh hari telah disinyalir oleh Rasullulah shalalahu alaihi wasallam yang tergambar dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id bin Al-Khudri :

دَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
و حَدَّثَنَا عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا أَبُو غَسَّانَ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ وَذَكَرَ الْحَدِيثَ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari 'Atha bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti kalian akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka.".-

Mengutip tulisan Jamil bin Habib Al- Luwaihiq dalam buku beliau Tasyabbuh yang Dilarang dalam Fiqih Islam : bahwa ketika syariat islam berbeda dari syariat yang lain, dan kaum muslimin berbeda dengan kaum-kaum lain adalah sesuatu yang memang telah disengaja oleh Penetap Syariat. Harapannya adalah agar setiap muslim tampil dengan kondisi yang paling sempurna sesuai dengan dirinya. Hukum-hukum syari’at juga telah muncul dengan larangan untuk mengikuti bangsa bangsa kafir terdahulu dan terkini.
Tasyabbuh (latah, meniru-niru, menyerupai, mirip) secara umum adalah salah satu permasalahan yang sangat berbahaya bqagi kehidupan kaum muslimin, khususnya di abad-abad belakangan ini karena meluasnya daedrah interaksi kaum muslimin dengan pihak-pihak lain.

Dalam bukunya Bahaya Mengekor Non Muslim Muhammad Bin ‘Ali Adh Dhabi’i menyebutkan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata bahwa Abu Daud telah meriwayatkan sebuah hadits hasan dari Ibnu ‘Umar,ia berkata bahwa Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Barang siapa meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka

Selanjutnya disebutkan bahwa hadits diatas menetapkan haramnya meniru-niru kepada sesuatu kaum diluar islam, secara dhahir menunjukkan bahwa perbuatan itu merupakan perbuatan kufur dan hal ini sejalan denagn hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“ B( HR.Baihaqi)
arang siapa menetap di negeri kaum musyrik dan ia mengikuti hari raya dan hari besar mereka, serta meniru prilaku mereka sampai mati, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka dihari kiamat.
Dari hadits diatas bisa berarti bahwa meniru-niru perilaku mereka sepenuhnya menyebabkan kekafiran, sekaligus menetapkan bahwa perbuatan semacam itu haram. Atau bisa juga bermakna orang tersebut menjadi bagian dari mereka sesuai dengan kadar keterlibatannya dalam meniru mereka.

Tegasnya hadits tersebut diatas menetapkan haramnya meniru mereka . Larang ini mencakup larangan sekadar meniru sesuatu yang mereka lakukan. Barang siapa yang meniru perbuatan golongan lain yang menjadi ciri golongan tersebut, maka perbuatan semacam itu dilarang.

Dari keterangan yang telah dikemukakan diatas maka sangatlah jelas adanya dalil yang dapat dijadikan dasar dan hujjah agar kaum muslimin tidak meniru-niru, menyerupai, mirip dan ikut-ikutan dengan perilakunya mereka-mereka diluar islam. Dan secara tegas telah ditetapkan perbuatan meniru-niru kepada orang-orang diluar islam merupakan perbuatan terlarang dan diharamkan.

Menyelisihi atau Berbeda Dengan Golongan Lain Merupakan Tujuan Syari’at.


Islam melarang umatnya meniru-niru umat lain, dan memerintahkan menyelisihinya, sesuai dengan sabda Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam,. Yang diriwqayatkan oleh Muslim :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي جَمِيعًا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya -yaitu Ibnu Sa'id-. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku semuanya dari Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot,berbedalah kalian dari golongan majusi

Muhammadbin ‘Ali Adh Dhabi’i dalam bukunya Bahaya mengekor non Muslim mengemukakan bahwa hadits tersebut diakhiri dengan perintah yang sedlaras adengan bagian awalnya. Hadits itui menunjukkan bahwa sifat berbeda terhadap golongan majusi merupakan tujuan syari’at. Tujuan ini merupakan salah satu sebab adanya ketetapan hukumkini. Secara umum berlaku sebab ketetapan suatu hukum telah lengkap.
Oleh karena itu, setelah kaum salaf memahami larangan menyerupai golongan majusi dalam hal kumis dan jenggot,mereka juga membencimenyerupai hal-hal yang lain yang merupakan kebiasaan majusi walaupun tidak ditegaskan secara khusus oleh Nabi shallahu ‘alaihi wasallam.

Dihadits lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhyallaahu anhum ia berkata bahwa Rasullullah shalalahu ‘alaihi wasallam
Bersabda “

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي قَيْسٍ مَوْلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ جَمِيعًا عَنْ وَكِيعٍ ح و حَدَّثَنِيهِ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ كِلَاهُمَا عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَيٍّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits dari Musa bin Ulay dari bapaknya dari Abu Qais Maula Amru bin Ash, dari Amru bin Ash bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur."

Berdasarkan hadits tersebut secara tegas Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam menyatakan adanya perbedaan antara ibadahnya orang-orang islam dengan jahudi. Dan umat islam diperintahkan untuk menyelisihinya.


Hikmah Pelarangan Bertasyabbuh Kepada Orang-Orang di Luar Islam

Didalam buku Tasyabbuh yang dilarang dalam Fiqih Islam oleh Jamil bin Habib Al-Luwaihiq dikemukan bahwa pelarangan bertasyabbuh kepada orang-orang kafir memiliki beberapa hikmah antara lain :

Hikmah Pertama : Pelarangan bertasyabbuh kepada mereka adalah untuk pemutusan jalan yang menuju kepada kecintaan dan kecendrungan kepada mereka dan segala hal yang menjadi akibat semua itu berupa kerusakan karena menganggap baik jalan mereka. Karena telah diketahui bahwa bertasyabbuh kepada mereka dalam aspek apapun akan mewariskan kesesuaian dan kedekatan.
Kecendrungan dan kecintaan ini kadang-kadang menyebabkan berbagai kerusakan dahsyat yang kadang-kadang menyampaikan orang kepada keadaan kafir dan keluar dari islam. Oleh sebab itu datanglah syariat inhi untuk membendung jalan menuju berbagai kerusakan.

Hikmah Kedua : Sesungguhnya dalampelarangan bertasyabbuh kepada orang –orang kafir terdapat pengamanan bagi kepemimpinjan,keistimewaan, dan kesempurnaan umat ini. Karena taklidnya kepada yang lain,tidak diragukan akan menghilangkan semua itu..

Hikmah ketiga : Sesungguhnya perbuatan orang-orang kafir dengan berbagai kelompoknya, tidak lepas dari kekurangan dan kerusakan . Bahkan kekurangan menjadi keharusan yang mengikat bagi perbuatan-perbuatan mereka itu
Meninggalkan bertasyabbuh kepada perbuatan perbuatan mereka adalah suatu keadaan yang sebenarnya adalah keselamatan dari apa-apa yang lekat dengan perbuatan-perbuatan mereka berupa kekurangan dan kerusakan.
Bersikap berbeda dengan mereka dalam segala perkara mereka mengandung manfaat dan kebaikan bagi kita umat islam.

Hikmah keempat
: Sesungguhnya dalam meninggalkan tasyabbuh kepada orang-orang kafir, adalah wujud nyata dari makna pemutusan diri (bara) dari mereka dan kemarahan kepada mereka karena Allah Ta’ala.

Hikmah kelima
: Sesungguhnya larangan bertasyabbuh kepada orang-orang kafir selalu menuju kepada upaya merealisir tujuan syari’at, yaitu membedakan orangh-orang kafir dari orang-orang islam agar dikenali. Apalasi mereka memiliki perbuatan-perbuatan, pakaian-pakaian, dan tradisi-tradisi khusus. Sehingga urusan mereka tidak bercampur aduk dengan urusan semua manusia sehingga orang tertipu oleh mereka karena tidak mengenal mereka. Aagar tidak ada kesempatan bagimerelka untukmenyebarkan racun mereka karena hilangnya apa-apa yang membedakan mereka dari kaum muslimin.


K e s i m p u l a n

1. Setiap agama mempunyai tahun kalender masing-masing, dimana setiap memasuki tahun baru para penganutnya melakukan penyambutan dan melaksanakan ibadah sesuai dengan syari’at agama mereka.

2.Tahun kalender Islam adalah tahun hijriyah yang pengambilan namanya terkait dengan sejarah Islam yaitu pada saat hijriyahnya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam ke Medinah meninggalkan Mekah yang waktu itu dikenal dengan kemusyrikan masyarakatnya.

3. Berbeda dengan para pemeluk agama-agama lain maka Islam tidak mensyari’atkan bagi umatnya dalam memasuki tahun baru untuk mengadakan penyambutan dan peringatan serta ibadah-ibadah khusus sebagaimana pemeluk agama lain dalam menyambut tahun baru mereka.

4. Mengadakan berbagai acara penyambutan dan ibadah-ibadah berkaitan dengan dimasukinya tahun baru hijriyah Muharram termasuk perkara yang diada-adakan ( bid’ah) dalam agama. Sedangkan bid’ah yang berkaitan dengan agama dilarang oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

4. Penyelenggaraan kegiatan penyambutan dan peringatan tahun baru hijriyah 1 Muharram oleh sebagian masyarakat islam sesungguhnya adalah meniru-niru, mengikuti atau menyerupai apa yang dilakukan oleh umat non muslim .

5. Islam sebagai agama wahyu telah memiliki kesempurnaan yang paripurna, yang tidak dapat lagi diganggu gugat oleh pemeluknya dengan menambah-nambah sesuatu yang dianggap baik menurut hawa nafsu dan pikiran dengan menyerap apa-apa dari kalangan orang-orang non muslim . Islam telah memiliki aturan sampai kepada yang paling terkecil seperti adab buang air, apalagi masalah-masalah yang besar tentunya sudah digariskan. Hal-hal lain yang tidak digariskan berarti itu islam memandangnya sebagai sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi pemeluknya, dan islam melarang umnatnya melakukan seuatu yang tidak ada petunjuknya.

6.Meniru-niru, mencontoh, mengikuti, menyamai, menyerupai segala bentuk sikap hidup, perilaku, kebiasaan, adat istiadat, tradisi dan perbuatan orang-orang diluar islam yang dilakukan oleh umat islam dinamakan tasyabbuh.

7.Tasyabbuh merupakan perbuatan tercela dan dilarang di dalam islam sesuai dengan kaidah dan dalil-dalil hukum yang dijadikan sandaran. Karenanya sudah menjadi kewajiban bagi seluruh individu, keluarga dan masyarakat islam secara menyeluruh untuk segara meninggalkan segala bentuk apa saja yang mereka serap dari pergaulannya dengan kalangan di liar islam.

8. Syari’at islam berupa al-Qur’an dan as-sunnah Nabi shalalahu ‘alaihi wasallam sudah sangat lengkap dan memadai dalam mengatur apa dan bagaimana segala bentuk dan macam perbuatan yang harus dilakukan oleh umatnya dalam menjalankan kehidupan kesehariannya, sehingga tidak diperlukan lagi sesuatu yang datangnya dari luar.

Wallaahu Ta’ala ‘alam

Diselesaikan, Selasa 26 Dzulhijjah 1432 H/22 Nopember 2011

(O l e h : Musni Japrie )

Sumber bacaan :
1. Al-Qur’an dan terjemahan ( Software Salafi DB )
2. Ensiklopedi hadits Kitab 9 Imam www.lidwapusaka.com

3. Fatwa-fatwa Terkini, Syaikh bin Bazz
4. Tasyabbuh yang Dilarang Dalam Fiqih Islam Jamil bin Habib Al-Luwaihiq.
5. Bahaya Mengekor non Muslim Muhammad bin ‘Ali Adh Dhabi’i
6. Parasit Aqidah A.D. El.Marzdedeq.
7. Mengupas Sunnah Membedah Bid’ah.
8. Risalah Bid’ah Abdul Hakim bin Amir Abdat.

9. Blog SALAFIYUNPAD™

10.Blog http://rumaysho.com